Sakhyan Asmara: Masalah Gubernur Edy Rahmayadi "Jewer" Choki Aritonang Tidak Perlu diperpanjang

Artam

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: getimagesize(https://cdn.drberita.id/photo/berita/dir122021/_1971_Sakhyan-Asmara--Masalah-Gubernur-Edy-Rahmayadi--quot-Jewer-quot--Choki-Aritonang-Tidak-Perlu-diperpanjang.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 181

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 182
Poto: Istimewa
Pakar Kebijakan Publik Dr. H. Sakhyan Asmara, MSP

drberita.id | Persoalan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi yang menjewer pelatih biliar Khairuddin Aritonang alias Choki tidak perlu diperparjang. Sebab peristiwa itu sebenarnya hubungan antara orang tua dengan anak, dan pembina dengan pelaku olahraga, di hadapan para pembina dan pelaku olahraga.

Jadi komunitasnya sangat homogen, ibarat dalam satu keluarga yang sesungguhnya tidak ada keinginan untuk saling menyakiti.

Seperti diberitakan, peristiwa Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi memanggil Pelatih Biliar Khairuddin Aritonang yang sering dipanggil Choki Aritonang kemudian menjewernya dalam acara Pemberian Bonus kepada para pelaku olahraga yang berprestasi pada PON XX Papua di Aula Tengku Rizal Nurdin beberapa waktu lalu, menjadi berita yang sangat viral di berbagai media cetak, media elektronik, media online dan media sosial.

BACA JUGA:Polda Sumut Buka Posko Pengaduan Korban Kapal Tenggelam di Perairan Malaysia

Berita itu kemudian mendapat respons dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis, LSM, praktisi, politisi sampai anggota DPR RI. Pendapat bermunculan dengan naunsa pro-kontra, sehingga menimbulkan kesan seakan-akan peristiwa itu adalah sebuah kejadian luar biasa yang proses penyelesaiannya memerlukan cara-cara khusus sesuai pendapat masing-masing. Ada yang mengatakan Gubernur harus minta maaf, ada yang menyarankan supaya melapor ke polisi, bahkan ada yang mengeleluarkan pernyataan menyesalkan sikap Gubernur Sumatera Utara.

Menurut Pakar Kebijakan Publik Dr. H. Sakhyan Asmara, MSP, sebenarnya peristiwa itu ibarat balon yang bisa dibuat besar jika mau dibuat besar bahkan sampai meletus. Tetapi jika ingin dibuat kecil, maka bisa menjadi kecil dan bahkan justru dapat menjadi alat instrospeksi bagi semua yang hadir di lokasi untuk lebih meningkatkan semangat kebersamaan dan semangat juang guna meningkatkan prestasi olahraga.

Hal itu dikatakan Sakhyan setelah menyimak pernyataan keduanya, baik Gubernur maupun Khairuddin. Gubernur mengatakan hal itu adalah jewer sayang. Tentu saja hal ini biasa dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya atau seorang pembina kepada binaannya. Jadi tidak masalah dan tidak perlu dipermasalahkan. Sementara Khairuddin juga menyatakan bahwa dia bukan diusir, tapi keluar sendiri dari ruangan karena di jewer. Hal ini wajar sebagai manifestasi kemarahaan sesaat karena dimarahi orang tua.

Jadi menurut saya ujar Sakhyan, hal itu adalah persoalan biasa, tidak perlu diperpanjang dan tidak perlu ada yang merasa disakiti. Apalagi jika dilihat dari tradisi kita orang timur, lanjut Sakhyan yang juga Ketua STIKP Medan itu, menjewer adalah sebuah perbuatan yang mempunyai arti berbeda antara tindakan dan pemaknaannya.

BACA JUGA:Kado Akhir Tahun Partai Demokrat, PTUN Tolak Gugatan Kubu KLB Moeldoko ke Menkumham

Tindakannya adalah menjewer yakni menarik atau memilin telinga, tapi maknanya adalah menegur atau memperingatkan (kepada anak didik atau bawahan). Jadi sebenarnya menjewer itu masuk dalam kategori kiasan sehingga perbuatan menjewer bukan menyakiti atau membuat orang lain sakit hati.

Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan karena perbuatan menjewer itu bukan bermaksud untuk menyakiti. Oleh sebab hendaknya semua pihak dapat lebih bijaksana dalam memberikan respons terhadap peristiwa menjewer yang dilakukan oleh Gubernur Sumatera Utara terhadap Pelatih Bilayar Choki Aritonang. Hal itu pasti bisa diselesaikan dengan segera tanpa harus diperpanjang.

Penulis
: DR Berita
Editor
: Admin

Tag:

Berita Terkait

Berita

Keberhasilan Edy Rahmayadi Mimpin Sumut Patut Diapresiasi dan Dilanjutkan

Berita

Bobby Nasution Salah Alamat Sebut Proyek Rumah Dinas Gubsu Rp. 2 Miliar ke Edy Rahmayadi

Berita

Edy Rahmayadi: Kita Percaya Pada Dukungan Tulus Masyarakat Sumut

Berita

Tiba di Puncak Barokah, Edy Rahmayadi Ingin Jadi Pemimpin Bermoral

Berita

Edy Rahmayadi Dapat Gelar Mangaraja Sojuangon Perkasa Alam Nasution dari Raja-raja Mandailing

Berita

Ribka Tjiptaning Ajak Kader PDI Perjuangan Tapteng Menangkan Edy Rahmayadi - Hasan Basri