DRberita | Asap hitam dan tebal itu selalu menggumpal menyelimutinya. Namun, demi anak dan istrinya, asap tebal tersebut bukan jadi penghalang apalagi penyakit baginya.Hari itu, Minggu 23 Februari 2020, Agus (32) warga Dusun VII, Desam Empat Negeri, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batubara, kedatangan sejumlah jurnalis. Dengan wajah terbedak asap hitam, Agus menyambut para jurnalis dengan senyum kecil meringih."Apa kabar bang Agus," tanya seorang jurnalis. "Baik, seperti biasanya la ni, main asap," jawab Agus ringan sambil tertawa kecil. Agus kemudian menghentikan aktifitasnya. Ia meninggalkan tumpukan batok kelapa yang sedari tadi sibuk dibakarnya. Sambil mengambil cangkir, Agus menuang air putih dan menenggaknya. "Apa cerita, ada yang bisa dibantu?" tanya Agus.Sesaat setelah bertanya, Agus mulai buka cerita. Katanya, usaha yang digelutinya terbentur dengan keterbatasan modal. Tidak hanya itu, batok kelapa yang akan dibakar juga harus dicarinya keliling kampung ke rumah-rumah warga.Agus mengatakan, penghasilannya yang didapatnya dari membakar batok kepala menjadi arang sebesar Rp 40 ribu per harinya. Itu karena modalnya yang terbatas.Agus mengkui jika dirinya mendapatkan bantu dari Pemerintah Kabupaten Batubara, penghasilannya bisa akan lebih baik lagi."Tempurung yang dibeli harganya Rp 600 perkilo. Lain lagi biaya transportasi Rp 200 ribu. Dari per tonnya, tempurung yang dibakar bisa menghasilkan 280 sampai 300 kg. Harga jualnya Rp 4.000 perkilo," kata Agus.Usaha itu, kata Agus, sudah sejak tujuh bulan lalu dilakoninya. Untuk mendapatkan lembaran rupiah, katanya bukanlah hal yang instan. Ada proses yang harus dilalui, bahkan harus menelan waktu mencapai satu minggu baru bisa membakar batok kelapa 1 ton."Kalau dihitung-hitung, aku hanya dapat Rp 40 sampai 50 ribu perhari. Gimana lagi, cukup gak cukup, ya dicukup-cukupilah," sambungnya.Untuk melanjutkan usahanya dan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Agus sangat berharap bisa mendapatkan bantuan modal. "Kalau punya modal Rp 1,5 juta, aku bisa mendapatkan 2 ton tempurung per-minggunya, jadi penghasilan aku bisa Rp 80 perhari," kata Agus.Meski modal pas-pasan, Agus masih tetap bersemangat melakoni usahanya. Asap hitam dan tebal bukan jadi halangan bagi dirinya untuk mendapatkan rezeki.
"Ini semua yang hitam-hitam di wajah dan tangan ku ini menjadi berkah buat anak dan istri. Rezeki sudah ada yang mengatur, usaha dan doa harus terus kita dilakukan," kata Agus mengakhiri. (art/drc)