drberita.id | Partai Amanat Nasional (PAN) didirikan 23 Agustus 1998, memiliki akhlak politik berlandaskan agama yang membawa rahmat bagi sekalian alam tertuang dalam AD Bab II, Pasal 3-2.
Kelahiran PAN seiring dengan semangat perubahan tata kelola berbangsa dan bernegara agar terwujud apa yang dicita-citakan para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dinamika politik tanah air memiliki karakter unik, dimana politik yang bekembang masih dalam persimpangan jalan antara karakter politik penjajah dan nilai-nilai luhur bangsa sehingga partai politik yang seharus membela dan memperjuangkan hak-hak rakyat, sengaja atau terpaksa harus berpihak kepada penguasa yang mengutamakan kepentingan kaum kapitalis.
Kegamangan dan lemahnya rasa nasionalisme para elit partai menyikapi dinamika politik global menyebabkan partai terseret dalam arus kekuatan politik negara-negara super power dan Indonesia sebagai harta karun dunia, menjadi bancakan kekuatan asing.
Baca Juga :Kebakaran Gedung Kejagung Tak Ada Korban Jiwa
Dalam usianya 22 tahun PAN, masih belum mampu beradaptasi dengan baik terhadap dinamika politik global. Konflik internal yang berakibat terpecahnya akar rumput tidak hanya terjadi pada PAN, semua partai politik juga mengalami penderitaan yang sama.
[br]
Kita sebagai generai penerus partai harus berani berkata jujur dan introspeksi diri bahwa kita tidak dalam kondisi baik-baik saja, dengan begitu kita akan terus memperbaiki diri dan mendorong kita untuk lebih maju, berkembang serta tangguh dalam menghadapi persoalan bangsa.
Amanat Kebangsaan
Baca Juga :Mahasiswa Sumut Demo KPK Minta Selidiki Dana Covid-19 Rp 1,6 Triliun
Sampai saat ini dan selamanya PAN akan terus mengawal dan memberikan sumbangsih pemikiran serta karya nyata sebagai wujud amanat kebangsaan dengan tidak melupakan sikap kritis yang membangun, sebagai tugas pokok dari seluruh kader partai.
PAN sebagai pembawa pesan amanah rakyat dan organisasi kemasyarakatan lainya yang ikut membesarkannya, telah banyak memberikan kontribusi dalam pembangunan, pendidikan dan turut serta mewarnai perubahan peradaban bangsa, PAN akan tetap berdiri di depan menghadapi masalah multi dimensi yang sedang dihadapi pemerintah.
Indonesia membutuhkan solusi terhadap semua persoalan yang dihadapi, bukan saatnya kita mencari siapa yang salah, kita harus bisa terima Indonesia apa adanya dan sekaligus memahami bahwa Indonesia perlu diselamatkan dari ketergantungan kekuatan asing, sampai menjadi negara yang mandiri.
PAN dan semua pemangku kepentingan harus melepaskan ego kelompok dan bersatu dalam pemikiran kolektif yaitu satu pemikiran demi penyelamatan Indonesia.
[br]
Kepemimpinan
Tidak bisa dipungkiri bahwa kita krisis kepemimpinan hampir disemua sektor, krisis kepeimpinan menjadi sebab utama krisis multi dimensi yang menghantam Indonesia. Krisis kepemimpinan tidak berdiri sendiri, ada faktor pendukungnya yaitu lemahnya pengetahuan politik masyarakat.
Baca Juga :Dokter Anggota IDI Cabang Medan Meninggal Positif Covid-19
Pengetahuan politik lemah karena tidak berjalan peran dan fungsi partai politik dalam memberikan pendidikan politik masyarakat. Peran dan fungsi partai politik tidak berjalan karena partai politik cenderung telah bertransformasi menjadi "Badan Usaha" yang sipatnya hanya orientasi profit bagi elit partai.
Mungkin bisa dipikirkan solusi seperti yang pernah diusulkan oleh Lembaga Pemantau Pemilu dan Pemerintahan Sumatera Utara (LP3SU) dengan menjadikan KPU-KPUD yang selama ini hanya sebagai penyelengara Pemilu diberi tugas utama lainnya bersama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) melakukan pendidikan politik masyarakat.
Kualitas pemilu akan semakin baik karena telah melibatkan masyarakat sejak awal dalam proses politik dan pada akhirnya akan terjaring pemimpin yang memiliki integritas terbaik.
[br]
Pada usia 22 tahun PAN telah banyak mencetak kader-kader pemimpin yang duduk diberbagai institusi swasta, dan pemerintahan meskipun belum pada posisi yang sangat strategis seperti Presiden.
Anggota legeslatif PAN diberbagai daerah pemilihan menunjukan peningkatan dibanding tahun 2014, seperti Kota Medan sejak dibawah kepemimpinan Bahrumsyah, SH, MH PAN yang sebelumnya hanya 4 kursi pada tahun 2014, mendapat 6 kursi pada pemilihan 2019, meski ada penurunan perolehan kursi dibeberapa daerah lain. Peningkatan perolehan kursi berarti tingkat kepercayaan masyarakat terhadap PAN semakin baik, sebagai hasil kepedulian PAN terhadap persoalan di masyarakat.
Dibutuhkan kerja keras yang berkesinambung dengan tetap berlandaskan akhlak politik yang disepakati disertai niat yang tulus. PAN sebagai ladang pengabdian akan menjadi kawah candradimuka untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang setia dalam mengemban amanah nasional. (art/drb)
Zulkifli Lubis SH
Wakik Sekretaris PAN Kota Medan