drberita.id | Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan yang dipimpin Nadiem Makarim, semakin aneh membuat kebijakan. Nadiem sepertinya harus jalan-jalan agar pendidikan di Indonesia tidak aneh lagi.
Koordinator Aliansi Pemuda Sumatera Utara (Apara ) Ilham Fadli menilai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim butuh jalan-jalan.
Baca Juga :Mahasiswa UINSU Demo Polda Sumut Desak Tangkap Rektor
"Mas Nadiem saya rasa butu jalan-jalan dan kunjungan ke sekolah-sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin cara itu bisa membantu Mas Nadiem lebih baik mengurus pendidikan di negeri ini," ujar Ilham dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat 7 Agustus 2020.
Munurut Ilham, dimanakah kebijakan Nadiem Makarim yang tidak kontra terhadap uji coba pendidikan Indonesia, belum lagi beberapa organisasi terbesar di Indonesia yang telah banyak mempengaruhi dan menciptakan generasi dari dunia pendidikan menolak POP.
"Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama dan PGRI, semuanya mundur dari program tersebut," sebutnya.
[br]
Kalau Nadiem Makarim sering berjalan mungkin dia mengenali sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, salah satunya dari sekian banyak mungkin Nadiem pernah menonton film Laskar Pelangi.
"Mas Nadiem, Indonesia ini besar, bukan hanya Kota Jakarta, masih ada desa tertinggal dan bangunan sekolah yang tidak layak pakai, ada sekolah di balik gunung, hingga di kaki gunung," kata Ilham.
Dia menilai Nadiem Makarim perlu meninjau kembali program pendidikan jarak jauh ataupun daring, apakah ini sudah sesuai dengan pembukaan Undang Undang Dasar 1945, dan apakah negara hadir bagian dari mencerdaskan anak bangsa?
Baca Juga :AHY Datang ke Gedung DPR Beri Arahan ke Anggota Fraksi Partai Demokrat
"Mengurangi beban siswa dan orang tua, karena masih ada di desa, anak yang tidak mau sekolah, apalagi dengan sistem jarak jauh dan daring ini berlaku, ini adalah kesalahan besar. Ikut serta dalam memutus mata rantai generasi penerus bangsa, dan banyak orang tua murid yang harus utang hingga ada yang mencuri untuk memenuhi program Nas Nadiem. Karna semua butuh siswa android, laptop hingga paket data," beber Ilham.
"Apakah solusi yang Mas Nadiem tawarkan dengan dana BOS ini cukup untuk membeli paket data? Satu bulan ada 26 hari 7-8 jam proses pembelajaran, apakah sudah Mas Nadiem jalan-jalan untuk survey?" tanya Ilham.
[br]
Nadiem jangan hanya bisa mengeluarkan janji dan angan-angan untuk meredam rakyat, tetapi konkritnya tidak ada. Indonesia sudah 75 tahun merdeka dan sudah maju. Bila Covid-19 yang dijadikan alasan dasar sehingga pendidikan harus jarak jauh dan daring, padahal Indonesia sudah menerapkan New Normal.
Apara, lanjut Ilham, menawarkan diri bila diperlukan untuk menyusun bagaimana pendidikan tatap muka berlangsung di New Normal. Apara siap membantu jika Nadiem Makarim membutuhkan bantuan.
"Semua orang ingin sehat, ingin pintar dan ingin dikurangi beban hidupnya atas pimpinan yang kurang jalan-jalan," kata Ilham.
art/drb