Tim Pekong: Dalangnya Moeldoko, Wayangnya Yusril

Artam

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: getimagesize(https://cdn.drberita.id/photo/berita/dir102021/_3110_Tim-Pekong--Dalangnya-Moeldoko--Wayangnya-Yusril.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 181

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 182
Istimewa
Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra saat konferensi pers di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat, Minggu 3 Oktober 2021 sore.

drberita.id | Partai Demokrat tidak terkejut kalau dalam mencapaiambisinya, KSP Moeldoko berkoalisi dengan Yusril Izha Mahendra. Kedua orang ini sama-sama ambisius dan egomania. Mereka akan melakukan apa saja untuk mencapai ambisinya.

"Kami sudah mendapatkan informasi koalisi mereka berdua ini, sejak tiga bulan lalu. Sudah ada pembicaraan di antara mereka berdua ini, melalui zoom meeting, dari rumahnya KSPMoeldoko di Menteng, pada awal Agustus 2021," ungkap Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra saat konferensi pers di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat, Minggu 3 Oktober 2021 sore.

Strategi mereka, kata Herzaki, dalangnya Moeldoko, wayangnya Yusril, dengan pemeran pembantu para pemohon tersebut.

BACA JUGA:Intelijen Moeldoko Tumpul, Demokrat: Siapa intelijen kami? Rakyat

"Kita tahu, bahwa yang namanya kontrak profesional, pasti ada rupiahnya. Itu wajar. Tapi kami minta agar Yusril mengakui saja. Jangan berkoar-koar demi demokrasi. Wajar kalau kader Demokrat marah ketika Yusril katakan, upayanya membela Moeldoko adalah berjuang demi demokrasi. Kalau benar demi demokrasi, benarkan dulu AD/ART Partainya. Itu baru masuk akal," kata Herzaki.

Selain itu, lanjut Herzaki, Yusril tidak paham aturan atau belum bacaaturannya. Jika keberatan dengan AD ART, ajukan ke Mahkamah Partai, bukan ke Mahkamah Agung.

"Kami juga memperhatikan instabilitas emosi pak Yusril. Ketika kader Demokrat katakan bahwa kok aneh, pak Yusril sekarang menggugat AD ART, yang tahun lalu telah dijadikan dasar, untuk mengusung anaknya menjadi Calon Bupati di Belitung Timur; lalu apa respons pak Yusril? Dia katakan, Pak SBY tidak akan bisa maju Nyapres 2004, kalau tanpa dukungan PBB. Sungguh Pembodohan Publik. Sangat tidak intelek. Perlu diragukan intelektualitasnya," beber Herzaki.

Tanpa PBB, kata Herzaki, Pak SBY dengan dukungan Demokrat tetap bisa maju Nyapres. Karena baik dilihat dari perolehan suara maupun kursi, sudah memenuhi syarat untuk nyapres. Tapibukan itu persoalannya. "Kami mempersoalkan intelektualitas dan respons Yusril. Kurang cerdas dan terlalu emosional," katanya.

BACA JUGA:Terungkap, Niat Jahat KSP Moeldoko ke Demokrat Sejak dari Panglima TNI

Karena itu, kata Herzaki, Partai Demokrat juga bertanya, lagi-lagi soal kemampuan intelijen KSP Moeldoko.

"Begini, seperti yang kami sampaikan sebelumnya, bahwa seminggusebelum putusan dari Kemenkumham, ada pertemuan antara Tim DPP Partai Demokrat dengan Tim Yusril. Saat itu penawarannya, benar 100 miliar. Ada buktinya. Ada tulisan tangannya. Kami tentu saja menolak halus karena melampaui batas kepantasan, seolah-olah hukum bisa diperjualbelikan. Bayangkan, kami yang berada di pihak yang benar saja dimintai tarif 100 miliar," kata Herzaki.

[br]

Faktanya, kanjut Herzaki, seminggu kemudian, tanpa Yusril, kami memang benar menang. Pengajuan KSP

Moeldoko ditolak oleh Pemerintah."Sekarang, kami tidak bisa membayangkan, berapa KSPMoeldoko harus membayar Yusril pada posisi KSP Moeldoko yang salah dan kalah," katanya.

Sebagai latar belakang penunjukkan Yusril ini, lanjut Herzaki, tim KSP Moeldoko terbelah tiga. Dokter hewan Johny Alen dan Nazarudin menghendaki Yosef Badeoda sebagai pengacaranya. Marzuki Ali menghendaki Rusdiansyah. Tapi KSP Moeldoko menghendaki dan akhirnya memutuskan Yusril sebagai Pengacaranya.

Awalnya, tim KSP Moeldoko mengatur pertemuan rahasia di kawasan Ampera, di Jakarta Selatan, dengan orang yang

dipercaya bisa mengatur hukum. Tapi rencana rahasia ini bubar karena Rusdiansyah diduga membocorkan pertemuan ini kepada pihak lain. KSP Moeldoko marah besar mengetahui hal ini.

BACA JUGA:Gomgom Ingatkan BMI Sumut Bangun Potensi Kekuatan Baru Partai Demokrat

"Nah, apakah intelijen KSP Moeldoko tidak bekerja, untuk mengetahui bahwa setelah beliau diporotin sekian miliar untuk KLB yang gagal, bukankah kali initerbuka lebar lagi, untuk KSP Moeldoko diporotin miliaran rupiah dalam proses hukum yang prematur, cacat logika, cacat yuridis, dan cacat etika," katanya.

Saat ini, semua kembali ke KSP Moeldoko. Beliau punya dua pilihan. Pertama, menghentikan semua ambisinya untuk mengambilalih Partai Demokrat. Mengakui kesalahannya. Meminta maaf kepada seluruh kader Partai Demokrat.

"Kami yakin, masih ada ruang perbaikan bagi siapapun manusia di muka bumi ini yang telah berbuat khilaf atau salah. Bukankah saat ini yim KSP Moeldoko pun sudah cerai-berai atau pecah kongsi (Pekong). Max Sopacua mundur teratur. Cornel Simbolon mundur. Nazarudin pun sebagai salah satu investor keluar dari koalisi. Mereka marah karena diduga ulah Rusdiansyah yang memalsukan tanda tangan kader Partai Demokrat, untuk menggugat Ketum AHY. Kader tersebut sekarang sudah melaporkan Rusdiansyah ke Polisi pada tanggal 18 April 2021. Kami meminta agar pihak Polda Metro Jaya memprosesnya segera," beber Herzaki.

Posisi Nazarudin digantikan oleh Muhamad Azhari, mantan kader yang sudah menjadi anggota partai lain. Keuangan tim pun sudah seret. Karena argometer jalan terus, tapi hasil tak kunjung tiba. Bahkan KSP Moeldokosudah tidak mempercayai tim Marzuki Alie, dan menggunakan orang-orang terdekatnya di KSP, inisal ES.

BACA JUGA:Heri Jiwa Besar Mundur dari Pencalonan Ketua Demokrat Sumut

Pilihan kedua, KSP Moeldoko melanjutkan ambisinya dan siap-siap kehilangan, bukan saja uangnya, tetapi juga nama baik dan kehormatan. Bukan saja kehormatan pribadi, tetapi juga kehormatan keluarganya.

"Kami yakin, insyaallah, bersama Tuhan dan dukungan rakyat Indonesia, kami dapat memenangkan proses hukum ini," kata Herzaki.

Penulis
: DR Berita
Editor
: Admin

Tag:

Berita Terkait

Politik

KPK Jangan Takut Periksa Lokot, Partai Demokrat Tidak Pernah Lindungi Kader Terlibat Korupsi

Politik

Sambut HUT Demokrat ke 22, Raja Zulham Hasibuan Gelar Aksi Jumat Berkah di Medan Deli

Politik

Putusan PK Moeldoko Membangun Demokrasi

Politik

SBY ke Kader Demokrat: Jika Keadilan tak Datang, Kita Berhak Perjuangkan

Politik

Istri KSP Moeldoko Meninggal di RSPAD Jakarta

Politik

Politisi Demokrat Sebut Konflik Tanah di Sumut Sangat Rawan