drberita.id -Calon Gubernur Sumatera Utara
Edy Rahmayadi bersilaturahmi dengan jama'ah pengajian pimpinan Ustad Buya Salman Ahmad di Puncak Barokah, Desa Bange, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal, Minggu 3 Oktober 2024.
Tiba di Puncak Barokah, Edi Rahmayadi hadir bersama Istri Nawal lubis disambut dengan suara sholawatan ribuan umat
Di hadapan ribuan jama'ah yang di dominasi kaum ibu, Edy Rahmayadi menyampaikan dirinya mencalonkan diri sebagai pemimpin bukan untuk gila menjadi pemimpin.
Edy mengutarakan sejak umur 20 tahun sampai sekarang sudah menjadi 68 kali pemimpin.
"Tapi begitu umat yang meminta saya menjadi umaroh (pemimpin), apa bila saya tidak mau, akan diabaikan kelak dikehidupan kemudian hari," ungkapnya.
Bahkan Edy berujar, mencalonkan diri sebagai pemimpin untuk ibadah. "Saya memimpin itu untuk ibadah, untuk menjadikan ibadah saya harus halal, tak akan saya bisa menjadi ibadah kalau haram," serunya.
"Persoalan siapa yang memilih saya, hanya Allah dan orang itu yang tau," sambungya.
Edi juga menyampaikan pesan gurunya bahwa ada tiga dosa besar, yang pertama musyrik, kemudian durhaka terhapan orang tua, yang ketiga kesaksian palsu.
"Nah, yang ketiga inilah kelak yang akan ditanya tentang memilih calon pemimpin. Kenapa kamu memilih si Edy? Dan jawabnya karena berat, dosa besar," ungkap mantan Pangkostrad ini.
Para pemimpin ke depan ini butuh fatonah, bukan butuh anaknya siapa dia. "Baguskah saya? Saya belum bagus, tapi berusaha untuk bagus," ucapnya.
Di hadapan jama'ah, Edy juga menyampaikan visi dan misinya untuk menjadikan Sumatera Utara yang unggul, maju, dan berkelanjutan.
"Isinya dari visi misi ada pendidikkan, kesehatan, insfrastruktur, pertanian, perkebunan, dan peternakan," pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, Buya Salman memberikan kesempatan kepada jama'ahnya untuk berinteraksi langsung dan menyampaikan pertanyaan kepada Cagubsu Edy Rahmayadi.
Salah satunya yang disampaikan Gong Matua Hasibuan. Gong bertanya ke Cagubsu Edy Rahmayadi bahwa Kecamatan Siabu merupakan lumbung Padi, namun kini telah hilang akibat dari tidak normalnya aliran air persawahan karena ada sumbatan di Lumpatan Harimau.
"Dahulu sekitar tahun 80'an ada seorang peneliti dari pusat (Jakarta), batu yang ada di lumpatan ini pernah akan di bom namun di larang ahli untuk di bom karena paku bumi, bila dibom akan hancur bukit mulai Tapsel hingga Madina. Bagaimana tanggapan bapak mengenai persoalan air yang ada di lumpatan itu agar ribuan hektar areal persawahan bisa kembali berfungsi," ucapnya.
Edi Rahmayadi menjawab pada masa tahun 2020 dan direncanakan itu di tahun 2019, yaitu perawatan Sungai Batang Gadis dan Batang Angkola sudah dilakukan peninjauan ke sana tetapi kerana covid itu berhenti.
"Kalau itu teralisasikan, pasti rakyat ini mendapatkan aliran air yang sempurna. Jadi dalam satu hektar sawah bisa menghasilkan 9-10 ton gabah (Padi), kalau hanya menghasilkan 7-8 ton perhektar petani tekor (Rugi). Untuk itu irigasinya diperbaiki," pungkasnya.
Untuk itu, Edy Rahmayadi juga mengajak jama'ah Puncak Barokah untuk bersatu demi kesejahteraan umat pilih pemimpin yang Istiqomah.