drberita.id -Tulisan ini saya buat karena terinspirasi dari tulisan sastrawan AA. Navis yang berjudul Robohnya Surau kami, namun dengan pendekatan yang sedikit berbeda .
Di ujung sejarah yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri sebuah rumah tua bernama Demokrasi.
Ia tidak dibangun dalam sehari, juga tidak lahir dari satu peristiwa tunggal. Rumah itu adalah akumulasi dari luka, harapan, dan perlawanan. Ia disemen oleh air mata, ditegakkan oleh keberanian, dan dihidupkan oleh suara-suara yang tidak mau tunduk.
Dahulu, rumah itu gaduh. Di berandanya, mahasiswa berdebat seperti api yang tidak mau padam. Di ruang tengahnya, oposisi berdiri seperti cermin yang tak henti memantulkan kekuasaan. Di halaman belakangnya, rakyat biasa belajar menyebut ketidakadilan dengan kata-kata yang perlahan mereka pahami sendiri.
Rumah itu tidak pernah sunyi. Dan justru karena itu ia hidup. Sebab demokrasi tidak pernah tumbuh dari ketenangan, melainkan dari kegelisahan yang dipelihara.
Namun hari ini, rumah itu tampak berbeda. Ia masih berdiri. Masih utuh di mata sebagian orang. Bahkan masih sering dipuji dari luar. Tetapi bagi mereka yang pernah mengingat bunyi langkah di dalamnya, ada sesuatu yang perlahan hilang, seperti gema yang tak lagi kembali dari dinding-dindingnya sendiri.
Sunyi yang terlalu rapi. Tertib yang terlalu patuh. Dan kesepakatan yang terlalu cepat lahir tanpa pertengkaran yang cukup.
Tidak ada lagi yang benar-benar memukul pintu rumah itu dengan kegelisahan. Mahasiswa masih ada, kampus masih hidup, spanduk masih sesekali terbentang di jalanan. Tetapi ada perubahan yang tidak selalu bisa ditunjuk dengan jari.
Kritik tidak lagi berdiri terlalu lama di bawah terik matahari. Ia kini lebih sering duduk di ruangan yang berpendingin. Lebih sering diundang daripada mendesak, lebih sering diajak berdialog daripada berhadapan, lebih sering diberi ruang, tetapi dalam batas yang telah ditentukan dengan sangat halus.
Tidak ada larangan yang keras, tidak ada suara senjata, tidak ada pintu yang dibanting, yang ada adalah pelukan, dan pelukan dalam politik kadang lebih efektif daripada represi. Sebab yang dipeluk tidak lagi perlu dilawan, yang dirangkul perlahan-lahan kehilangan alasan untuk berteriak.
Oposisi pun tidak hilang, ia hanya berubah bentuk. Ia tidak lagi selalu berada di luar pagar. Ia mulai duduk di meja yang sama. Menggunakan bahasa yang sama, menyusun kalimat yang tidak lagi terlalu tajam agar tetap dapat didengar dan perlahan, ia belajar bahwa untuk bertahan, ia harus menjadi bagian dari percakapan yang sebelumnya ia kritik.
Tidak ada yang salah dengan dialog, tidak ada yang keliru dengan kompromi, tetapi demokrasi tidak pernah dibangun hanya dari kompromi. Ia membutuhkan ketegangan yang sehat, ia membutuhkan suara yang tetap berani mengatakan "tidak", bahkan ketika semua orang memilih "ya". Tanpa itu, oposisi bukan lagi oposisi, ia hanya dekorasi.
Rumah tua itu tidak runtuh karena dihancurkan. Ia runtuh karena ditenangkan terlalu lama, karena setiap suara yang mengganggu dianggap tidak produktif, karena setiap kritik dianggap gangguan stabilitas, karena setiap pertanyaan dianggap ketidaktahuan yang perlu segera dijawab dengan narasi yang lebih nyaman dan di titik tertentu, masyarakat mulai percaya bahwa ketenangan adalah tanda kesehatan politik.
Padahal tidak selalu demikian, kadang ketenangan hanyalah tanda bahwa sesuatu telah berhenti bergerak.
Ada masa ketika demokrasi di rumah itu diukur dari seberapa keras orang berdebat. Kini, ia diukur dari seberapa sedikit konflik terlihat di permukaan.Dari seberapa lancar proses berjalan dan seberapa rapi perbedaan dikelola agar tidak mengganggu citra kebersamaan.
Kita diajarkan untuk mencintai stabilitas dan stabilitas perlahan menjadi kata lain dari ketidakberanian untuk berhadapan dengan perbedaan yang nyata.
Mahasiswa yang dahulu menjadi denyut awal perubahan tidak lagi selalu berada di garis depan yang sama. Sebagian masuk ke dalam system, sebagian menjadi bagian dari kebijakan dan sebagian menjadi konsultan, analis, staf, juru bicara, atau pengelola narasi.
Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi ada sesuatu yang hilang ketika hampir semua jalan akhirnya mengarah ke dalam kekuasaan.
Sebab demokrasi tidak hanya membutuhkan orang yang mengelola negara. Ia membutuhkan orang yang mengawasi negara tanpa harus menjadi bagian dari negara itu sendiri.
Ketika semua orang ingin masuk ke dalam rumah, siapa yang akan menjaga pintunya?
Rumah tua itu kini tampak lebih modern dari sebelumnya, catnya diperbarui, halamannya dirapikan, jendelanya dibuka lebih lebar dan bahasanyanya diperhalus., namun di balik pembaruan itu, ada sesuatu yang tidak ikut diperbaiki: keberanian untuk tidak selalu setuju.
Demokrasi bukan soal estetika institusi, ia adalah soal keberanian moral, dan keberanian tidak bisa dibangun dari kenyamanan.
Kita sering mengira bahwa ancaman terhadap demokrasi selalu datang dalam bentuk yang kasar, padahal sejarah lebih sering bekerja dalam diam. Ia tidak selalu datang dengan sepatu militer. Kadang ia datang dengan undangan, kadang ia datang dengan penghargaan, kadang ia datang dengan ruang yang tampak lebih besar, tetapi perlahan mengecilkan kemampuan untuk keluar darinya.
Dan ketika semua orang sudah berada di dalam, tidak ada lagi yang benar-benar berdiri di luar untuk bertanya: ke mana arah rumah ini sebenarnya sedang bergerak?
Rumah itu masih disebut demokrasi, pemilu masih berlangsung, lembaga masih bekerja, konstitusi masih dibacakan. Tetapi demokrasi bukan hanya soal prosedur. Ia adalah soal keseimbangan antara kekuasaan dan ketidaknyamanan. Dan ketidaknyamanan itulah yang kini perlahan menghilang. Digantikan oleh bahasa yang lebih lembut, lebih tertata, lebih aman lebih mudah diterima. Tetapi juga lebih mudah kehilangan makna.
Kita hidup dalam zaman ketika kritik tidak lagi dilarang, tetapi dilunakkan, tidak lagi dipadamkan, tetapi diarahkan, tidak lagi dihentikan, tetapi diintegrasikan. Dan di titik tertentu, kritik kehilangan daya kejutnya. Ia menjadi bagian dari sistem, bukan lagi penantangnya.
Mungkin inilah bentuk paling halus dari kemunduran demokrasi: bukan ketika suara dibungkam, tetapi ketika suara masih ada, namun tidak lagi mengganggu, bukan ketika oposisi dihapus, tetapi ketika oposisi menjadi terlalu nyaman untuk benar-benar menantang.
Bukan ketika mahasiswa dilarang berbicara, tetapi ketika berbicara tidak lagi terasa perlu.
Saat ini, rumah tua itu masih berdiri. Orang-orang masih datang dan pergi. Diskusi masih terjadi. Pidato masih disampaikan. Tetapi ada jarak yang tidak terlihat antara apa yang dikatakan dan apa yang sebenarnya dipertaruhkan.
Seolah-olah semua orang sudah sepakat untuk tidak terlalu jauh melangkah dalam mempertanyakan arah rumah itu sendiri. Dan di situlah demokrasi mulai kehilangan napasnya yang paling penting: yakni keberanian untuk mempertanyakan dirinya sendiri.
Barangkali tidak ada momen dramatis yang akan kita ingat sebagai "hari runtuhnya demokrasi", tidak ada suara retakan besar, tidak ada runtuhan tiba-tiba, yang ada hanyalah pergeseran kecil yang tidak disadari.
Hari ketika kritik menjadi formalitas, hari ketika oposisi menjadi bagian dari kesepakatan, hari ketika mahasiswa lebih memilih aman daripada gelisah, hari ketika pertanyaan dianggap kurang bijak, hari ketika kita berhenti merasa perlu untuk mengganggu ketenangan yang tampak baik-baik saja dan saat itulah rumah itu mulai kehilangan dirinya sendiri.
Demokrasi tidak selalu mati karena diserang, ia sering kali mati karena dirawat dengan terlalu hati-hati, terlalu rapi, terlalu nyaman. Terlalu ingin menjaga semua orang tetap di dalam, sampai tidak ada lagi yang berani membuka pintu dari luar.
Jika suatu hari rumah itu benar-benar roboh, mungkin kita tidak akan bisa menunjuk satu pelaku. Karena ia tidak runtuh oleh satu tangan. Ia runtuh oleh banyak tangan yang terlalu lama memilih untuk tidak mengganggu. Dan pada akhirnya, pertanyaan paling jujur yang tersisa bukanlah siapa yang menghancurkannya, melainkan: apakah kita, tanpa sadar, telah ikut menidurkan rumah itu sampai ia lupa bagaimana caranya tetap terjaga?
Rabu 24 Juni 2026
Oleh: Drs. Muhammad Bardansyah. Ch.Cht