drberita.id -Tokoh Pemuda Tanjung Morawa, Rudi Hutabarat SH menilai potongan video pidato Jusuf Kalla (JK) di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memicu polemik dugaan penistaan agama harus dipahami secara utuh dan komprehensif.
"Apa yang disampaikan pak JK adalah penjelasan berbasis data empiris dan pengalaman langsung saat melakukan mediasi konflik SARA di Indonesia," ucapnya di Medan, Kamis 16 April 2026.
Menurut Rudi, poin krusial dalam pidato tersebut adalah pengungkapan realitas sosiologis di lapangan saat kerusuhan Poso dan Ambon terjadi.
"Pak JK tidak sedang menyampaikan pendapat pribadi tentang ajaran agama, melainkan mengungkapkan apa yang ada dipikiran orang orang yang bertikai pada saat itu," jelasnya.
Dalam penjelasannya, Kader Partai Demokrat ini merujuk pada fakta bahwa kedua belah pihak yang berkonflik saat itu seringkali menggunakan jargon agama sebagai alat legitimasi untuk saling membunuh.
Ada anggapan keliru di tengah massa bahwa membunuh lawan atau terbunuh dalam konflik tersebut akan menjamin jalan ke surga. "Realitas pahit inilah yang membuat konflik Poso dan Ambon sangat sulit dihentikan hingga memakan ribuan korban jiwa 5.000 orang di Ambon dan 2.000 orang di Poso," sambubgnya.
Rudi menegaskan tujuan JK mengangkat isu ini di UGM justru untuk meluruskan penyimpangan. Dalam ceramahnya, JK justru memperingatkan tindakan saling membunuh adalah kekeliruan besar yang tidak diajarkan oleh agama mana pun.
"Pak JK justru menekankan mereka yang saling membunuh itu akan masuk neraka, karena tidak ada agama yang membenarkan tindakan demikian. Jadi, ini bukan penistaan, melainkan upaya edukasi agar jargon agama tidak lagi disalahgunakan untuk kekerasan di masa depan," pungkas Rudi Hutabarat.