Polri Presisi

PICTA Dorong Reformasi Polri Kembalikan Kepercayaan Rakyat ke Negara

Artam

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: getimagesize(https://cdn.drberita.id/uploads/images/202510/_690_PICTA-Dorong-Reformasi-Polri-Kembalikan-Kepercayaan-Rakyat-ke-Negara.png): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 181

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 182
Poto: Istimewa
Sarasehan nasional bertajuk 'Urgensi Reformasi Polri Menuju Institusi yang Profesional, Transparan, dan Humanis sebagai Implementasi Asta Cita'.
drberita.id -Pemuda Indonesia Cinta Tanah Air (PICTA) menggelar diskusi sarasehan nasional bertajuk 'Urgensi Reformasi Polri Menuju Institusi yang Profesional, Transparan, dan Humanis sebagai Implementasi Asta Cita' di Kedai Tempoe Doeloe, Jalan Boulevard Timur, Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara, Senin 20 Oktober 2025.

Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka antara kalangan pemuda, aktivis, dan masyarakat sipil, dalam membedah arah reformasi kelembagaan Polri agar lebih sejalan dengan semangat perubahan dan tuntutan masyarakat modern.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi antara lain Nasky Putra pengamat kebijakan pemerintah dan politik nasional; Sonata dari YLBH CKI; Tiarma aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI); Raja Oloan SH Direktur LKBHMI; serta Febry Fery Yanon dari Komunitas Ojol Jamrud Squad Pulomas.

Dalam paparannya, Nasky Putra menekankan pentingnya reformasi Polri tidak hanya sebatas perubahan struktural, tetapi juga menyentuh aspek mentalitas dan budaya organisasi.

"Polri adalah institusi yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Profesionalitas dan transparansi menjadi keharusan agar kepercayaan publik tumbuh. Reformasi tidak boleh berhenti pada jargon, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku dan pelayanan sehari-hari," tegas Nasky.

Sonata dari YLBH CKI menyoroti tentang pentingnya aspek hukum dan hak asasi manusia dalam proses reformasi Polri. Ia menyampaikan bahwa praktik penegakan hukum harus berlandaskan prinsip keadilan dan menjunjung tinggi martabat manusia.

Sonata pun ingin melihat Polri yang humanis, bukan represif. Polisi harus menjadi pelindung dan pengayom, bukan pihak yang ditakuti rakyat.

Tiarma dari GMNI menambahkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong agenda reformasi di tubuh Polri. Menurutnya, keterlibatan pemuda menjadi penting karena mereka adalah kelompok yang paling sering berinteraksi dengan dinamika sosial dan kebijakan publik.

"Pemuda harus menjadi bagian penting dari kontrol sosial terhadap institusi negara. Reformasi Polri harus menjadi gerakan kolektif, bukan hanya tanggung jawab internal Polri," kata Tiarma.

Sementara itu, Direktur LKBHMI Raja Oloan SH menyoroti pentingnya transparansi dalam setiap tahapan penegakan hukum. Ia menilai bahwa keterbukaan informasi publik dapat menjadi jembatan antara aparat penegak hukum dengan masyarakat.

Keterbukaan menjadi kunci untuk menghapus stigma negatif terhadap Polri. "Jika masyarakat bisa mengakses informasi dengan mudah, maka kepercayaan publik akan tumbuh secara alami," katanya.

Dari sisi masyarakat akar rumput, Febry Fery Yanon yang mewakili Komunitas Ojol Jamrud Squad Pulomas meminta reformasi Polri harus bisa dirasakan langsung masyarakat kecil. Ia berharap aparat kepolisian hadir dengan sikap empati dan pelayanan yang cepat.

"Kami para pekerja lapangan sering berhadapan dengan berbagai situasi. Kami ingin Polri yang humanis, yang memahami kondisi kami, bukan hanya datang saat menindak," tutur Febry.

Sarasehan nasional tersebut merupakan bagian dari upaya PICTA dalam mendukung terwujudnya cita cita besar bangsa sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo, yaitu delapan arah kebijakan pembangunan nasional yang menekankan nilai nilai keadilan, sosial, dan tata kelola pemerintahan yang bersih, serta penegakan hukum yang berkeadilan.

Sarasehan diakhiri dengan pernyataan sikap bersama yang menegaskan komitmen Pemuda Indonesia Cinta Tanah Air akan terus mengawal proses reformasi Polri agar tetap berada di jalur profesionalitas, transparansi, dan humanisme.

"Kami, Pemuda Indonesia Cinta Tanah Air, percaya reformasi Polri bukan hanya tentang memperbaiki institusi, tetapi juga tentang mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap negara. Polri yang profesional dan humanis adalah kunci terciptanya rasa aman dan keadilan di tengah masyarakat," ucap mereka.

Semangat kolaborasi antara pemuda, masyarakat sipil, dan akademisi, PICTA berharap hasil diskusi ini dapat menjadi rekomendasi nyata bagi pembuat kebijakan dan institusi Polri dalam mewujudkan cita cita reformasi yang berkeadilan dan berkemajuan.

Penulis
: redaksi
Editor
: redaksi

Tag:

Berita Terkait

Politik

Tokoh Sumut Dukung Pemekaran Daerah Sejalan Dengan Program Kodam Untuk Pertahanan Negara

Politik

Puluhan Guru Muda Gelar Sekolah Rakyat Untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana di Aceh

Politik

Komisi Reformasi Polri Datang ke USU, Ada Apa?

Politik

7 Perusahaan Penyebab Bencana Sumut: Negara Harus Bertindak dan Menghukum Para Pelanggar

Politik

Harga Token Listrik PLN Sengat Ekonomi Rakyat Hingga 35 Persen

Politik

Rugikan Negara Puluhan Miliar, Kejati Sumut Tahan Mantan Direktur Teknik Pelindo I dan Direktur Dok Perkapalan Surabaya