drberita.id -Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wanda Kuswanda menjelaskan analisis genetik menunjukan Orangutan Tapanuli adalah spesies orangutan paling tua.
Migrasi pertama orangutan ke Nusantara diduga dimulai dari selatan Danau Toba, lalu menyebar ke Kalimantan sebelum kembali lagi ke utara Danau Toba.
Fakta genetik tersebut menjadikan konservasi orangutan Tapanuli sebagai prioritas global.
"Saat ini, kita masih dalam proses mempublikasikan data terbaru, namun diperkirakan populasi Orangutan Tapanuli hanya berkisar 577 hingga 760 individu. Angka yang sangat rendah ini menjadikan mereka salah satu spesies yang paling terancam," kata Wanda dalam diskusiPeluang Koeksistensi dalam Upaya Konservasi Orangutan Tapanuli, dikutip republika, Kamis 4 September 2025.
Keterbatasan populasi dan habitat membuat Orangutan Tapanuli sulit ditemui di alam liar. Penelitian populasi biasanya dilakukan secara tidak langsung, dengan menghitung sarang yang dibangun.
"Lanskap Batang Toru, habitat utama mereka, kini hanya menyisakan sekitar 66 persen area yang layak huni," kata Wanda.
Pembukaan lahan, penebangan liar, serta perluasan perkebunan kelapa sawit dan eukaliptus terus mengikis ruang hidup mereka. Bahkan, perkebunan sawit kini merambah dataran tinggi di ketinggian 600-700 meter di atas permukaan laut.
"Bahkan di area APL (Area Penggunaan Lain) yang seharusnya tidak mengganggu habitat, perkebunan ini mengisolasi pergerakan orangutan," jelas Wanda.