drberita.id -Bencana ekologis banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera, khususnya wilayah Sumatera Utara pada akhir November 2025 telah menelan ribuan jiwa mahluk hidup. Termasuk hewan langka Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis).
Bencana tersebut memperparah tekanan terhadap spesies kera besar paling langka di dunia itu dan memicu desakan aksi penyelamatan darurat dari berbagai pihak.
Peneliti asal Liverpool John Moores University dan Durrell Institute of Ecology and Conservation, Inggris, memprediksi sekitar 33 hingga 58 individu Orangutan Tapanuli atau sekitar 10 persen dari total populasi mati akibat longsor, pohon tumbang, dan banjir.
Sebelum bencana terjadi, populasi Orangutan Tapanuli diperkirakan hanya tersisa sekitar 581 ekor di alam liar.
Bencana juga menghantam Blok Barat ekosistem Batang Toru yang merupakan habitat utama orangutan Tapanuli. Estimasi kehilangan tutupan hutan akibat banjir dan tanah longsor mencapai 8.303 hektar.
Data tersebut disusun oleh Erik Meijaard, peneliti utama dari Liverpool John Moores University dan Durrell Institute of Ecology and Conservation, dengan menggunakan empat citra satelit untuk membandingkan kondisi tutupan lahan sebelum dan sesudah bencana.
Dalam riset berjudul 'Extreme Rainfall Event in Sumatra Caused Critical Habitat Loss and Lethal Impacts to the Critically Endangered Tapanuli Orangutan' yang dipublikasikan di Preprints.org pada Februari 2026, Meijaard telah memperingatkan ancaman serius terhadap kelangsungan hidup spesies tersebut.
"Tanpa intervensi segera, orangutan Tapanuli menghadapi risiko nyata menjadi spesies kera besar pertama yang punah," tulis Meijaard, dikutip Senin 11 Mei 2026.
Fragmentasi habitat disebut menjadi tantangan utama dalam upaya konservasi Orangutan Tapanuli. Untuk mencegah kerusakan semakin meluas, sejumlah langkah dilakukan, termasuk pembangunan koridor ekologis penghubung habitat.
Orangutan Tapanuli sendiri baru diakui sebagai spesies langka pada 2017 dan kini menjadi spesies kera besar dengan populasi liar terkecil di dunia. Saat ini diperkirakan kurang dari 800 individu tersisa dalam tiga populasi terisolasi di kawasan hutan Batang Toru, yakni Blok Barat, Blok Timur, dan Blok Selatan Sibual-Buali.