Kemerdekaan RI

Menjaga Merah Putih di Tengah Perbedaan

Artam

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: getimagesize(https://cdn.drberita.id/uploads/images/202508/_4785_Menjaga-Merah-Putih-di-Tengah-Perbedaan.png): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 181

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 182
Poto: Istimewa
Bendera Merah Putih

Oleh: Ilham Fauji Munthe, SE, ME - Ketua Umum HIMMAH Kota Medan Periode 2018-2020

drberita.id -Delapan puluh tahun sudah (17 Agustus 2025) bangsa Indonesia merdeka. Dalam rentang waktu yang panjang ini, kita menyaksikan betapa perbedaan yang dulu menjadi kekuatan dalam merebut kemerdekaan, kini justru sering menjadi alasan munculnya perpecahan.

Padahal, para pendiri bangsa (founding fathers) telah meletakkan fondasi kebhinekaan sebagai kekayaan bangsa, bukan ancaman. Dalam konteks inilah penting bagi kita, terutama generasi muda, untuk merenungi makna kemerdekaan secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai sejarah yang dikenang, tetapi sebagai nilai yang terus diperjuangkan. Salah satunya adalah menjaga merah putih di tengah perbedaan.

Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 280 juta jiwa (BPS, 2025), dengan 1.340 suku bangsa (Indonesia.go.id), ratusan bahasa daerah, dan berbagai agama serta kepercayaan. Dalam kemajemukan itulah sesungguhnya identitas Indonesia dibangun.

Sumpah Pemuda 1928 telah menegaskan semangat itu, dengan ikrar yang selalu bergema: "Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia." Artinya, sejak awal perjuangan, kebhinekaan bukan sekadar diterima, tetapi dijadikan landasan utama dalam membangun persatuan nasional.

Namun ujian terhadap semangat ini tidak pernah berhenti. Bila pada masa perjuangan kemerdekaan perbedaan disatukan untuk melawan penjajahan, kini perbedaan justru sering dijadikan alat politik yang memecah belah. Di era digital dan demokrasi terbuka, ruang informasi yang bebas telah menjadi arena pertarungan identitas.

Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang dialog dan saling memahami, justru kerap menjadi medan pertempuran narasi yang sarat kebencian, hoaks, dan polarisasi politik. Di sinilah kita melihat bahwa persatuan Indonesia kembali diuji, bukan oleh senjata, tetapi oleh ujaran kebencian, disinformasi, dan hoaks.

Di tengah tantangan ini, peran pemuda lintas agama, suku, dan komunitas menjadi sangat penting. Pemuda tidak bisa hanya menjadi penonton, apalagi ikut dalam arus provokasi. Justru pemudalah yang harus berdiri di garis depan untuk merawat persaudaraan dan membangun dialog lintas identitas.

Karena sejatinya, di tangan generasi mudalah masa depan Indonesia ditentukan. Bukankan keberhasilan merebut kemerdekaan di dalam ada peran pemuda? Gerakan kepemudaan yang progresif, toleran, dan inklusif harus terus digalakkan. Kita bisa belajar dari banyak inisiatif positif yang muncul dari kelompok-kelompok pemuda, seperti forum lintas iman, komunitas seni budaya lintas suku, dan gerakan literasi digital anti-hoaks.


Penulis
: redaksi
Editor
: redaksi

Tag:

Berita Terkait

Politik

Anak Glugur Medan Nyaris Tewas Dibacok Saat Hari Kemerdekaan RI di Deliserdang

Politik

Muhammad Nuh Ajak Syukuri 80 Tahun Kemerdekaan: Soroti Profesionalisme BPN dalam Kasus Tanah Wakaf

Politik

Kemerdekaan RI ke 80: Korban Kriminalisasi Tiba di Perbatasan Riau - Jambi Menuju Istana Negara

Politik

Merdeka Berbagai di Kemerdekaan RI di Medan Area, BKM: Menggugah Kepedulian Sesama

Politik

Wong Chun Sen Baca Teks Proklamasi Kemerdekaan RI di Ikon Sejarah Lapangan Merdeka Medan

Politik

Wong Chun Sen: Kemerdekaan RI Harus Diisi Dengan Kemakmuran dan Kesejahteraan Rakyat