drberita.id -Memperingati 118 tahun Hari Kebangkitan Nasional, semangat Boedi Oetomo untuk menyatukan pemuda dalam membangun bangsa kembali digaungkan. Namun di Kota Medan, semangat itu dinilai belum tercermin, terutama dalam berbagai pengambilan kebijakan.
"Karenanya, kami menilai Pemko Medan gagal menjalankan peran strategisnya dalam merangkul potensi pemuda dan menata pembangunan Kota Medan secara menyeluruh," ungkap Ketua DPD KNPI Kota Medan Matius Situmorang dalam siaran persnya, Rabu 20 Mei 2026.
Hari Kebangkitan Nasional, kata Matius, mengingatkan semua rakyat bahwa kemajuan bangsa dimulai dari kesadaran pemuda. Sayangnya, di Medan hari ini pemuda justru merasa diabaikan.
"Ruang partisipasi minim, program kepemudaan jalan di tempat, dan komunikasi antara Pemko Medan dengan komunitas pemuda putus," ujarnya.
Matius mengatakan ada dua hal yang sangat krusial terjadi di Kota Medan untuk disikapi, yaitu;
1. Kegagalan Merangkul Pemuda
Pemko Medan belum menghadirkan ekosistem yang memberi ruang nyata bagi pemuda untuk berkontribusi. Banyak program hanya bersifat seremonial, tanpa keberlanjutan dan tanpa keterlibatan aktif komunitas, organisasi kepemudaan, dan wirausahawan muda lokal. Akibatnya, energi pemuda Medan tidak tersalurkan untuk pembangunan kota medan.
2. Kegagalan Menata Pembangunan Kota Medan di Setiap Sektor
Dari tata ruang, infrastruktur, pendidikan vokasi, hingga ekonomi kreatif, perencanaan pembangunan kota medan dinilai tidak terintegrasi dan tidak berpihak pada kebutuhan generasi muda. Kemacetan, minimnya ruang publik produktif, Tingginya tingkat Kriminalitas dan rendahnya dukungan terhadap inovasi pemuda menjadi bukti nyata lemahnya arah kebijakan.
Kota yang besar bukan hanya yang banyak proyek fisiknya, tapi yang mampu menjadikan pemudanya sebagai subjek pembangunan. Jika Pemko terus gagal melihat ini, maka Medan akan terus kehilangan generasi terbaiknya.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus dijadikan titik evaluasi serius. Pemko Medan perlu membuka dialog terbuka dengan pemuda, menyusun peta jalan pembangunan yang melibatkan Pemuda itu sendiri, dan menghentikan pendekatan top-down yang tidak lagi relevan.
"Bangkitnya Medan tergantung pada seberapa serius kita menaruh pemuda di pusat kebijakan. Tanpa itu, peringatan 20 Mei hanya akan jadi seremoni tahunan tanpa makna," tutupnya.