drberita.id | Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo bertemu Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, di rumah dinas gubernur, Medan, Rabu 17 Maret 2021. Edy didampingi Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Provinsi Sumatera Utara.
Kedatangan Agus Widjojo ke Medan rencananya akan mengisi beberapa kegiatan, salah satunya Focus Group Discussion (FGD) tentang Pengaruh Politik Identitas terhadap demokrasi Indonesia yang diadakan di Hotel Radison Medan.
Ketua IKA Lemhannas Sumut Edy Rahmayadi didampingi Dewan Penasehat Indra Wahidin, Wakil Ketua Prof. Subhilhar, Sumandi Wijaya, dan pengurus Hendrik Sitompul, Deddy F. Purba, dr. Ferry S., Elisaberh Purba dan Arman Chandra yang juga Ketua KADIN Medan, mengucapkan selamat datang ke Agus Widjojo.
BACA JUGA :Pemkab Deliserdang Dukung Program Sentra Ternak DD Farm
Diharapkan Gubernur Lemhannas dapat merasa nyaman serta menikmati kuliner yang ada di Kota Medan.
Edy menyampaikan, Sumut memiliki kekayaan etnis, suku, dan agama yang saling berhubungan. Ini yang membuat rasa kekeluargaan sangat erat hingga jika ada perselisihan cepat teratasi.
"Sumut ini terdiri dari beragam suku, di antaranya Batak, Jawa, Nias, Melayu, Minang, Aceh, Banjar, Banten, Sunda, dan Tionghoa, yang saling menghormati dan tetap kompak satu dengan yang lainnya," ujarnya.
Meski di Sumut pernah terjadi gesekan, lanjut Edy, baik itu persoalan agama maupun suku, namun para ketua adat juga forum kerukunan agama langsung berperan dan menyelesaikannya. Tidak sampai seperti di daerah lain.
"Semoga tidak terjadi hal yang tak diinginkan, sehingga merusak kerukunan umat beragama sebab itu tadi, peran FKUB dan Ketua Adat sangat dijunjung tinggi," paparnya.
BACA JUGA :Pangdam I/BB Pimpin Rakor Rentinkon Kotamaops TNI Wilayah Kogabwilhan I
Gubernur Lemhanas RI Letjen TNI (purn) Agus Widjojo didampingi Plt Settama Prof. Dr. Ir. Reni Mayemi, M.P., Taji Bidang Politik dan Ideologi Mayjen TNI Gunung Iskandar, serta Taji Bidang Ideologi Marsda TNI Agus Radar Sucahyo.
Agus Widjojo mengatakan Sumut menjadi percontohan kerukunan umat beragama di Indonesia. "Kendati memiliki keberagaman suku dan agama, tapi bisa hidup dengan rukun dan damai," ujarnya.