drberita.id -Kordinator Forum Aktivis 98 Muhammad Ikhyar Velayati mengatakan lembaga survei saat ini tidak lagi berperan sebagai instrumen demokrasi yang melakukan kontrol dan sosialisasi pemilu agar berjalan jujur dan adil, tetapi sudah menjadi sampah demokrasi.
"Lembaga survei saat ini justru jadi sampah demokrasi, diduga karena seringkali merilis hasil surveinya di media berbeda dengan kenyataan di lapangan," ungkap Ikhyar di Medan, Jumat 30 Juni 2023.
Ikhyar menambahkan, dalam iklim demokrasi, sejatinya lembaga survei merupakan bentuk partisipasi masyarakat yang bertujuan memberikan pendidikan politik, sekaligus mengawal pemilu agar jujur dan adil.
Justru saat ini peran lembaga survei diduga jadi alat untuk framing dan branding capres dalam pilpres maupun Cakada dalam pilkada.
"Tugas lembaga survei itu memberikan pencerahan dan pendidikan politik ke masyarakat. Apa yang menjadi harapan publik kepada calon, atau mengawal pileg dan pilpres agar jurdil. Jika surveinya benar dan hasil yang diungkap juga sesuai fakta lapangan, maka capres atau cakada yang menang dengan curang akan ditolak publik, karena rakyat percaya kredibilitas lembaga survei tersebut," jelas Ikhyar.
Namun menurut Ikhyar, lembaga survei saat ini tidak lagi independen dan objektif. Karena sudah bekerja untuk kepentingan capres atau cakada.
"Saat ini kan terbalik, lembaga survei yang harusnya independen justru bekerja untuk para capres dan cakada, hasil surveinya pun sudah bisa dipastikan sesuai dengan kepentingan tuannya," tandas Ikhyar.
Misalnya, kata Ikhyar, rilis hasil survei yang dilakukan PWS Sharazani MA, hasilnya Prabowo Subianto mendapat 40,5%, Ganjar Pranowo 33,4% dan Anies Baswedan 20,8%.
Sementara, lembaga survei Populi yang merilis hasil dalam simulasi tiga tokoh calon presiden justru Ganjar Pranowo diurutan pertama dengan hasil 35,8%, disusul Prabowo 33,4%, dan terakhir Anies 23,2%.