BUMN

Brengsek ala Prabowo

Artam

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: getimagesize(https://cdn.drberita.id/uploads/images/202510/_6620_Brengsek-ala-Prabowo.png): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 180

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 181

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/sudutbir/drberita.id/amp/detail.php on line 182
Poto: Istimewa
Presiden Prabowo Subianto

Oleh: Rosadi Jamani

drberita.id -Kemarin, Prabowo mengucapkan kata "anjing" di sidang umum PBB. Sekarang, presiden kita mengucapkan kata "brengsek" yang ditujukan para BUMN yang merugi, tapi minta bonus.

Brengsek. Kata yang keluar dari mulut Presiden Prabowo Subianto saat menyoroti perilaku sebagian manajemen BUMN. Bukan kalimat panjang penuh jargon manis, melainkan satu peluru verbal yang melesat langsung ke jantung persoalan. Saat BUMN merugi namun tetap membagi bonus, Prabowo tidak menutupinya dengan bahasa diplomatis. Ia berkata lantang, "Perusahaan rugi, dia tambah bonus untuk dirinya sendiri. Brengsek banget itu!"

Inilah momen ketika kata sederhana menjelma filsafat negara. "Brengsek" bukan sekadar umpatan, tapi manifesto moral, kritik sosial, bahkan tamparan politik. Di dalamnya ada jeritan rakyat yang muak melihat uang negara dibakar di pesta pora segelintir direksi. Bayangkan absurditasnya : Laporan keuangan merah, hutang menumpuk, namun direksi masih menagih bonus bak gladiator haus anggur. Prabowo menyebut mereka seperti mengira BUMN itu warisan nenek moyang, padahal itu harta publik. Kata "brengsek" menjadi definisi resmi bagi arogansi yang merayakan diri di atas kerugian negara.

Namun retorika Prabowo tidak berhenti di panggung amarah. Ia langsung menyisipkan ancaman konkret. Ia akan mengirim Kejaksaan dan KPK untuk mengejar mereka yang mengangkangi logika manajemen. "Saya mau kirim Kejaksaan dan KPK untuk kejar-kejar itu," katanya, sambil menambahkan dengan sarkasme khas, "nanti dibilang Prabowo kejam lagi." Inilah gaya kepemimpinan yang menggabungkan teater politik dengan instruksi hukum, dramatik sekaligus penuh kalkulasi. Para petinggi BUMN yang merasa nyaman di kursi empuk bonus tiba-tiba seperti mendengar derap kuda kavaleri penegak hukum di belakang telinga.

Di tengah letupan kata keras itu, Prabowo tampil sebagai pengajar ekonomi dadakan. Ia menyampaikan teori return on asset (ROA) dengan penuh keyakinan. Kalau aset negara 100, mestinya hasil yang wajar 10. Itu artinya 10 persen dari aset harus kembali dalam bentuk keuntungan. Jika itu terlalu berat, maka 5 persen saja sudah cukup untuk menghadirkan sekitar Rp800 triliun bagi negara. Angka yang fantastis, disampaikan di tengah serangan verbal. Tak berhenti di situ, ia menambahkan, kondisi nyata BUMN bahkan belum sampai ROA 3 persen. Perpaduan antara makian jalanan dan kalkulasi ekonomi makro ini membuat pidato itu berasa seperti kuliah umum filsafat akuntabilitas.

Lebih dari sekadar marah, Prabowo memberi waktu. Ia menyebut pembersihan BUMN harus dilakukan dalam 2–4 tahun. Sebuah janji yang bukan hanya ancaman, tapi juga target transformasi. Bagi direksi yang masih bernafas dalam mimpi bonus, kata "brengsek" itu kini menjadi jam alarm yang terus berdengung, mengingatkan bahwa sang presiden sedang menunggu hasil.

Maka jadilah kata ini abadi. Ia akan dipelajari bukan hanya di ruang rapat, tapi mungkin kelak di kelas filsafat politik. Mahasiswa bisa saja menulis disertasi berjudul Ontologi Brengsek dalam Negara Modern. Para pengamat akan menempatkan ucapan Prabowo di jajaran kutipan besar pemimpin dunia, Kennedy punya "Ask not what your country can do for you", Sukarno punya "beri aku sepuluh pemuda", dan Prabowo punya "brengsek banget itu."

Dengan satu kata, Prabowo dinilai jujur, tak suka berbisik di belakang. Hal ini membuat pendukungnya makin kagum. Akhirnya ada presiden yang tidak bersembunyi di balik kata "evaluasi" atau "perbaikan tata kelola." Kata itu adalah cermin jujur dari kemarahan publik. Maka jika kelak para direksi BUMN yang rugi tapi minta bonus menatap wajah sendiri di cermin, mungkin mereka akan mendengar gema suara Prabowo, tegas dan tak terbantahkan, brengsek, benar-benar brengsek.

Penulis
: redaksi
Editor
: redaksi

Tag:

Berita Terkait

Politik

Asta Cita Presiden Prabowo: FABEM Dorong Menkeu Purbaya Siapkan Anggaran Pembangun Penjara Khusus Koruptor

Politik

Prabowo Tegaskan Indonesia Nonblok di Konflik Timur Tengah

Politik

YRKI Minta Prabowo Buktikan Janji Asta Cita Indonesia Sehat: Pembangunan RSUD Tipe A Harus Terwujud

Politik

Penulis Yonge Sihombing Luncurkan Buku Prabowonomics Versi Indonesia dan Inggris

Politik

Korsup KPK Bertentangan Dengan Asta Cita Presiden Prabowo: Pemborosan Anggaran

Politik

Presiden Prabowo Terima Pengurus DPP PKB dan Ketua DPW se Indonesia