drberita.id | Mantan Ketua PB Nahdlatul Ulama periode 1999-2009, Dr. H. Andi Jamaro Dulung atau yang akrab disapa AJD berkunjung ke Sumatera Utara. Dalam kesempatan itu, AJD mengunjungi Alwashliyah Sumatera Utara Building.
AJD disambut hangat oleh Ketua PW Alwashliyah, Dr. H. Syekh Dedi Iskandar Batubara yang juga merupakan anggota DPD RI.
Putra Makasar yang memiliki aktivitas tinggi di ibukota saat ini sedang berkunjung ke Tanah Deli dan menyempatkan waktu mengunjungi kami, warga Alwashliyah.
BACA JUGA:Sofyan Djalil Temui Gubsu, Masalah Tanah Eks PTPN2 Selesai"Saya senang sekali mendapatkan kunjungan dari seorang tokoh politik nasional. Saya kira Bang Andi ini adalah tokoh Indonesia Timur yang barangkali satu dari sekian anak Indonesia yang Allah berikan pernah menjadi ketua PBNU, juga dua periode menjabat sebagai anggota DPR RI. Pengalaman dan kiprah bang Andi lah yang saya rasa akhirnya membawa abang kepada literatur-literatur organisasi kemasyarakatan, termasuk salah satunya Alwashliyah," ucap Syekh Dedi, Rabu 11 Agustus 2021.
"Belum sah kunjungan saya ke Medan ini, jika belum mampir ke pasak nya Sumatera Utara, yaitu Alwashliyah. Sejak kecil, saya sudah sering membaca literatur terkait institusi penyebar islam, salah satu yang mengesankan saya adalah Alwashliyah. NU dan Alwashliyah bedanya sangat tipis, karena kita ini sama-sama muridnya Imam Syafii," jawab AJD.
"NU dan Alwashliyah jika bersanding, insyaAllah problematika di Sumut ini akan selesai. Saya pernah membaca bahwa tahun 1930-an, Alwashliyah dan NU dipimpin oleh kakak-adik bermarga Lubis. Nah, rasa kedekatan itu yang harus tetap terjaga," sambungnya.
BACA JUGA:Gawat! Rakyat RI Bakal Hidup Bersama Dengan Covid-19Di tengah mewabahnya Covid-19, AJD mengungkapkan ada beberapa hal yang menjadi perhatiannya. Menurutnya, pemanfaatan masjid yang terbuka selama 24 jam bisa sangat efektif dijadikan pusat komando lapangan penanganan Covid-19.
Pemerintah saat ini telah berbuat banyak, menurut ukuran saya sudah maksimal. Ketika Covid mendunia, masing-masing negara memiliki cara dan metodologi masing-masing dalam menangani wabah ini.
"Jika belum selesai sampai hari ini, kita tidak boleh menyalahkan pemerintah, karena memang ini peristiwa baru sehingga referensi penyelesaian pun masih sangat minim," jelasnya.
Tidak terlibatnya masyarakat dalam penyelesaian covid-19 ini secara masif ini merupakan langkah yang sangat keliru. Semestinya, masjid dijadikan pusat komando dalam menyelesaikan masalah covid-19.
BACA JUGA:Kasus Covid-19 di Indonesia Sepanjang Pandemi 3.718.821 orang, Sumut Termasuk Penyumbang Terbesar"Masjid itu lengkap sekali, ada pelataran yang bisa dijadikan tempat berolahraga, ada MCK, ada takmir masjid yang jumlahnya tidak kurang dari 20 orang yang amanah dan berwibawa, yang perintahnya ditaati oleh ummat," jelasnya.
Terakhir, kata AJD, ada 820 ribu masjid dan mushola di Indonesia, jika digabung dengan rumah ibadah lainnya maka berjumlah 1 juta. Artinya, 1 rumah ibadah itu menangani 270 orang dengan rentang kendali yang sangat singkat.
"Ayo bangun gerakan masif masyarakat, jangan gerakan gugus saja. Kita tidak boleh membiarkan pemerintah repot sendiri. Karena masjid itu penyelesaian masalah, bukan sumber masalah," tegasnya.