drberita.id -Seekor
Paus Sperma ditemukan terdampar di
Pantai Banjar Anyarsari Kangin, Desa Nusasari, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, dalam kondisi baru mati.
Paus Sperma baru mati itu ditemukan oleh masyarakat sekitar dan langsung melaporkannya ke Balai Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Penanganan Paus Sperma baru mati itupun dilakukan penyuluh perikanan, bersama Polairud Jembrana, Bhabinkamtibmas, Jaringan Satwa Indonesia (JSI), Yayasan Westerlaken Alliance Indonesia, Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI), serta aparat desa setempat.
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Denpasar, Getreda Melsiana mengatakan hasil identifikasi Paus Sperma yang ditemukan baru mati berjenis kelamin jantan atau Physeter macrocephalus, dengan panjang sekitar 17 meter.
"Tim dokter dari Yayasan Westerlaken Alliance Indonesia turut melakukan nekropsi dan pengambilan sampel biologis dari beberapa organ untuk pemeriksaan laboratorium. Proses tersebut memerlukan waktu cukup panjang agar pengambilan data dan sampel dapat dilakukan secara menyeluruh," ucap Getreda Melsiana dikutip dari kkp.go.id, Kamis 28 Mei 2026.
Paus Sperma yang terdampar di Pantai Banjar Anyarsari Kangin, Desa Nusasari, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, diketahui pada 5 Mei 2026, pukul 16.00 WITA dengan kondisi terdampar mati dalam kategori kode 2 atau baru mati atau fresh dead.
"Sementara itu, kondisi cuaca gelap disertai hujan deras menyebabkan proses penguburan belum dapat dilaksanakan dihari yang sama. Setelah proses nekropsi selesai, bangkai paus segera dikuburkan di lokasi yang tidak terdampak pasang tertinggi," sambung Getreda.
Abdul Latif Muhamad selaku tim dokter nekropsi mengungkapkan bahwa tidak ditemukan luka maupun tanda-tanda benturan pada bagian luar tubuh Paus Sperma. Ia menduga paus terlalu menepi ke perairan dangkal saat mengejar mangsa, sehingga kesulitan kembali ke laut lepas.
Kondisi tersebut memicu terjadinya crush syndrome, yaitu gangguan pada otot dan organ tubuh akibat berat tubuh paus sendiri ketika terlalu lama berada di perairan dangkal atau daratan.
"Pada kondisi ini, tekanan tubuh dapat menghambat sirkulasi darah dan memengaruhi fungsi organ yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian," ujar Abdul Latif.