drberita.id | Kekayaan alam Gayo, Aceh Tengah masih saja menjadi perbincangan. Ternyata komoditas yang merajainya adalah, kopi dan tembakau.
Cerita yang berkembang, kualitas Tembakau Gayo tak kalah mantap dari tembakau dari kawasan lain.
Tembakau ini ditanam petani pada ketinggian di atas 1200 mdpl. Berdampingan dengan tanaman kopi yang kini sedang mendunia.
Ternyata Tembakau Gayo memiliki daya pikat bagi para penikmatnya. Tembakau Hijau Gayo salah satunya. Tembakau muda ini sudah dipanen oleh petani dan sudah ada penampung yang bersedia membayarnya.
Bahkan, seorang petani bernama Amansur di Kawasan Bintang, Gayo, Provinsi Aceh mengatakan komoditi Tembakau Gayo kini terus mengimbangi keberadaan kopi.
"Anak muda kini gemar menghisap tembakau hijau. Walaupun aromanya mirip tanaman Ganja, tapi tak masalah, itu tetap tembakau bukan Ganja," katanya.
Petani Tembakau Gayo, Amansur.
Menurutnya, para proses penyemaian bibit selama satu minggu, hingga menjadi kecambah. Setelah 15 hari, segera diberikan pupuk daun sampai sebulan setengah baru bisa ditanam di atas lahan.
"Lalu tanaman diberikan pupuk urea secukupnya, kemudian dalam dua bulan atau 2,5 bulan sudah bisa dijadikan bahan untuk tembakau hijau," ucap Amansur.
"Penjemuran setelah layak petik hanya satu hari saja, karena sore sudah ada orang yang membayarnya. Tembakau hijau tak perlu lama, karena jika lama dijemur, maka dia bakal berubah warna," ungkap Amansur.
Sementara itu, Seorang pemuda Takengon, Sabian mengatakan banyak orang Gayo yang mengkonsumsi Tembakau Hijau. Mulai dari orang tua, hingga anak muda.
Sabian, pemuda Gayo ketika mengisap Tembakau Gayo.
"Beragam jenis tembakau disini, ada tembakau hijau, tembakau kuning dan tembakau merah. Setiap tembakau memiliki rasa yang berbeda-beda," kata Sabian.
Sabian menyebutkan, aroma tembakau yang paling mencolok adalah tembakau hijau. Aromanya mirip tanaman Ganja dan diminati oleh tak hanya warga Gayo saja, tapi juga warga daerah lain.
"Dikirim ke luar Aceh juga, tak cuma di Aceh dijualnya. Setahu saya, malah sampai Jakarta dan pulau Jawa," katanya.
Seorang Petani Tembakau Gayo lainnya, Iwan Melala menyatakan ada cara lain menikmati tembakau. Tak cuma dihisap tapi bisa juga dikonsumsi untuk suntil.
"Dikonsumsi bersama pinang. Itu Tembakau merah dan kuning, tergantung cuacanya. Petani proses tembakau hijau dalam satu hari, tapi tembakau lain lebih lama. Semua tergantung selera," ucap Iwan.
Petani Tembakau, Iwan Melala.
"Orang yang duduk ngopi di kafe dan warung juga mengkonsumsi ini. Kita harus bisa memperkenalkan dan membantu mempromosikan produk asli ini. Kita sebagai petani sengaja menanam Tembakau dan Kopi secara berdampingan, jadi kopi mendapatkan kandungan tembakau dan tembakau juga begitu," ucap Iwan.