drberita.id | Aku ini lari jalur dari keluarga. Orang tua ku PNS, aku yang mau usaha berjualan seperti ini.
Ucap Ikhsan mengawali pembicaraan saat ditemui di kafenya, Jalan Pasar 6 Tembung, Percut Sei Tuan, Deliserdang, Sumatera Utara, Sabtu 7 Agustus 2021.
Pria asal Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh, kelahiran 27 tahun lalu ini, mengawali usahanya dengan lari dari pemondokan di Samalanga, Bireun. Awalnya ia lari ke Jakarta selama 3 bulan, karena tidak tahan, ia pun balik. Tapi baliknya ke Medan, bukan ke Sigli.
Baca Juga:Kepala BNPB Datang ke Medan, Warga Dapat Ribuan Masker dan SabunMemiliki nama lengkap Muhammad Ikhsan, di Kota Medan, Ikhsan bekerja di tempat penggilingan mie kuning yang biasa digunakan untuk makanan mie aceh. Ia pun lalu kuliah di Universita Medan Area (UMA), Jalan Setia Budi, Medan, pada tahun 2011.
Dikarenakan situasi, Ikhsan pun hanya mengikuti kuliah tidak sampai tiga semester.
"Dari situ aku kemudian berjualan bersama teman. Jatuh bangun, ada enam kali buka tutup kami jualan mie aceh. Tapi aku sudah buka penggilangan mie kuning sendiri. Di pasar 6 ini lumayan rame. Kawan-kawan sempat melarang di Tembung ini, tapi sekarang mereka diam," kata Ikhsan.
Dalam perjalanannya merintis usaha, pemilik Kafe Aceh Meutuah Khupie yang artinya "Aceh Bertuah Kopi" ini pun mendapat dorongan dari temannya sekampung bernama Nita Zahara, yang akhirnya menjadi istrinya.
Baca Juga:Masyarakat Jarah Aset PT Timah di Bangka BelitungDorongan dan semangat dari Nita ini pun membuat Ikhsan akhirnya melanjutkan kuliahnya. Dan akhirnya selesai pada tahun 2016 di Sekolah Tinggi Graha Kirana, Jalan Nibung Raya, Medan, dengan status sarjana ekonomi.
"Sambil kerja di penggilingan mie kujing itu, lanjut kuliah ku dan selesai pada tahun 2016, di ST Graha Kirana. Ya dia (Nita) yang ngasih semangat," kata Ikhsan.
Baca Juga:Dirut RSU Pirngadi Medan Bantah Tudingan Pengusaha KrisnaTotal ada 17 karyawan yang bekerja dengan Ikhsan di penggilangan mei kuning dan kafe miliknya di Jalan Pasar 6 Tembung, yang dibukanya pada Janurai 2020, sebelum awal pandemi Covid-19.
"Mau pandemi itulah bukanya kafe ini, pas Januari 2020. Sekarang PPKM ini terasa omset berkurang. Ya lumaya dapatnya, bisa Rp 20 juta perbulan, itu bersih sudah. Sekarang yang drastis turun omset sejak PPKM. Mau tak mau bersabara la kita sampai berakhir situasi ini, sepi tapi tetap masih ada yang datang ke mari," kata Ikhsan.
[br]
Sejak lari dari pemondokan di kampunya, Ikhsan mengaku baru balik ke kampungnya saat mendapat kabar bahwa orang tuanya sakit.
"Itu la, pas dapat kabar ayah sakit aku balik. Aku ceritakan ke ayah dan ibu bahwa aku sudah selesai kuliah dan punya usaha di Medan. Sekarang ikut adik ku ke Medan. Aku suruh dia yang mengelola penggilingan mie kuning, kafe ya aku," kata Ikhsan.
Baca Juga :Aktivis 98: Pertumbuhan Ekonomi 7,07 Persen Informasi MenyesatkanIkhsan pun berencana mau menambah usahanya lagi dengan membuka kafe yang tetap menjual ciri khas makanan mie aceh di pinggiran Kota Medan. Saat ini ia masih bersabar hingga pandemi Covid-19 berakhir.