drberita.id | Tender proyek multi years jalan dan jembatan Provinsi Sumatera Utata senilai Rp 2,7 triliun ternyata gagal sekali. Tender lanjutannya pun dimenangkan oleh PT. Waskita, dengan progres kerja yang dirubah 67 menjadi 33 persen atas permintaan dari kontraktor pemenang tender.
Pada tender yang dimenangkan PT. Waskita saat itu, pokja yang berjumlah 7 orang awalnya menerima 3 perusahaan pendaftar, yaitu PT. Pembangunan Perumahan (PP), PT. Waskita, dan CV. Dinamika Jaya Amerta (DJA) yang ternyata tidak mengapload dokumennya.
Terungkapnya proses tender ini diketahui dari keterangan Kabid Pembangunan Dinas PUPR Provinsi Sumut Marlindo Harahap, yang juga KPA proyek Rp 2,7 triliun.
"Soal KSO saya tidak tau prosesnya bagaiman, itu di luar dari proses tender proyek. Yang saya tahu PT. SMJ dan PT. Pijar Utama mendampingi PT. Waskita pada saat pendaftaran lelang ke LPSE," tegas Marlindo Harahap, Jumat 5 Agustus 2022.
Marlindo pun mengakui dirinya menjadi KPA proyek Rp 2,7 triliun setelah tender selesai dilaksanakan. Tepatnya pada saat penandatanganan kontrak. Ia juga mengatakan dirinya menjadi KPA karena Tengku Ispan mengundurkan diri.
"Lelangnya online tidak manual. Teken kontrak pada 10 Juni 2022, SK KPA saya keluar 2 Juni, dan saya dilantik menjadi Kabid Pembangunan 30 Mei. Tahapan kualifikasi 21 Februari sampai 1 Maret, dan upload dokumen 19 Maret sampai 14 April 2022," jawab Marlindo didampingi stafnya Reza Harahap.
BACA JUGA:
Proyek Rp 2,7 T, LIRA Duga Ada Permufakatan JahatKabar yang diperoleh DRberita terkait KSO PT. Waskita dengan PT Sumber Mitra Jaya (SMJ) dan PT. Pijar Utama, diduga terjadi dengan adanya kesepakatan fee yang diterima oleh broker. Lobi lobi yang berujung KSO itupun berjalan lancar oleh broker yang membuat PT. Waskita mau menerima PT. SMJ dan PT. Pijar Utama menjadi pendamping saat upload dokumen penawaran.
Namun Marlindo Harahap pun kembali menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam lobi lobi KSO tersebut. Dia pun mengatakan tidak mengenal oknum oknum yang menjadi broker KSO Waskita SMJ Utama.
"Yang saya tau PT. SMJ itu direkturnya Gowinda Sami, kuasa direkturnya Arman Dalius Panjaitan. Kemudian direktur PT. Pijar Utama Hary Yuliono atau Fery Gareng, dan alamat PT. Pijar Utama itu di Jalan Sunan Giri 1E, Lt 4, RT. 007/015, Kelurahan Rawamangun, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur," terang Marlindo.
BACA JUGA:
BPKAD Sumut Bantah Kabar Proyek Rp 2,7 T Tak Ada Uangnya"Dan 7 orang anggota pokja lelangnya yaitu Pramuda Mulia Surbakti, Irwansyah Perwira Negara, Lisbet Lasmaria Turnip, M. Yss Adili Lubis, Selvina, Rika Hesti Bangun, dan Habibi Lubis. SK mereka dari Gubsu," sambung staf Reza Harahap.
"Kalau mau tahu persis proses lelangnya, coba tanya saja ke Kepala Biro Pembangunan, Muliyono. Mungkin dia tahu KSO itu terjadinya bagaimana," timpal Marlindo Harahap.
Marlindo juga menjelaskan soal dana yang disiapkan untuk progres kerja 67 menjadi 33 persen sebanyak 62 paket sebesar Rp 900 miliar, yang berbeda dengan apa yang dikatakan Kepala BPKAD Provsu Ismail Sinaga sebesar Rp 500 miliar.
"Kalau itu begini ceritanya, KSO ini kita minta mengerjakan proyek sampai nilai Rp 900 miliar, tetapi kita nanti membayar di tahap pertama ini Rp 500 miliar. Itu maksudnya, dan berkurangnya progres kerja itu atas permintaan kontraktor, karena jangka waktu kerja yang tersisa tahun (2022) ini 5 bulan lagi. Tahap keduanya kan 2023, dan terakhir 2024," kata Malindo.
Marlindo pun memastikan dirinya tidak ada terlibat dalam proses lelang dan lobi lobi KSO Waskita SMJ Utama yang diduga adanya fee yang dikeluarkan oleh pihak PT. SMJ dan PT. Pijar Utama di depan untuk para boker.
"Saya tidak ada dapat! Saya baru di sini pas teken kontrak, mengganti Tengku Ispan jadi KPA. Soal apa alasan beliau mundur saya pun tidak tahu," tegasnya.