drberita.id | Anda tahu mahkluk bernama Ulat Kidu? Dia hidup di dalam Batang Aren yang sudah mati dan kering.
Bentuknya gemuk dan lucu serta menggemaskan bagi orang menyukainya. Namun, sebagian orang yang geli takkan mencoba untuk mencicipinya.
Benar, ulat makanan khas masyarakat Karo, Sumatera Utara disebut-sebut senang mengkonsumsinya. Karena banyak kandungan protein di dalamnya.
Sejumlah orang mengunyah dalam keadaan hidup dan ada juga orang yang suka setelah digoreng atau dibakar.
Pencari Ulat Kidu, Moris Sitepu mengaku tak memakan Ulat Kidu dari Pohon Aren. Namun, ulat berwarna putih di dalam Batang Bambu suka dikonsumsinya.
"Ini ulat banyak sekali proteinnya, manfaatnya baik untuk kaum pria. Saya tak memakan Ulat Kidu di Aren saat dia masih hidup, geli. Tapi ulat di Batang Bambu mau aku makan, enak kali pun," ujar Moris Sitepu, Jumat (24/12/2021) di Tiga Pancur, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Moris mengaku, banyak cara mengolah Ulat Kidu. Mulai menggoreng kering, hingga membakarnya.
"Ada yang memakan hidup-hidup, ada yang menggoreng, ada yang membakar. Tergantung selera masing-masing," ujar Moris.
Moris menyebutkan banyak warga Karo yang suka mengkonsumsi. Dia pun mengaku, Ulat Kidu sudah menjadi makanan khas daerah Karo.
Sementara itu, seorang warga Kota Medan, Mafa Yulie tertarik mencoba ulat yang berbadan gendut dan berwarna putih.
"Rasanya kayak kelapa, ini ulat dari Batang Bambu. Kidu dari Batang Aren tidak saya makan mentah. Pas udah digoreng, dua-duanya sedap," kata Mafa.