drberita.id -Kejaksaan Agung di Indonesia tidak butuh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) yang tidak memiliki prestasi. Sampai saat ini masih ada
Kajari yang 'oon' atau beloon. Padahal, masih ada kepala seksi (kasi) kejaksaan yang pintar.
"Sampai sekarang pun, saya pernah menemukan sesuatu Kajari yang masih 'oon' gitu loh. Mohon maaf, masih ada Kejari, Kasi-kasi yang pinter, kan dipaksakan gitu, karena sudah pangkat yang 4A," ungkap Jaksa Agung Sanitiar (ST) Burhanuddin di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, Denpasar, pada Selasa 16 September 2025.
"Mungkin, saudaranya siapa, atau temannya siapa, iya dipaksakan jadi Kajari. Saya enggak akan mau lagi yang gitu, yang saya mau adalah yang betul-betul berprestasi, punya otak. Mohon maaf, saya agak kasar sedikit," sindirnya.
Burhanuddin menegaskan institusi adhyaksa tidak butuh kajari yang beloon, dan 'hanya tahu soal uang'. Dia juga mengatakan Kejagung sedang membangun institusi yang dipenuhi orang pintar dan berprestasi.
"Tapi kenyataannya begitu, sudah 'oon', enggak ngerti apa apa, yang ngerti duit saja. Kita sedang membangun bank talent, yang kita mengharapkan bank ini bisa memenuhi keinginan teman teman," ujarnya.
"Saya juga tidak menginginkan dan saya tidak memutasi orang yang mengenal saya. Mengenal saya pun untuk apa? kalau 'oon' atau beloon. Saya tidak akan memberikan kesempatan, yang saya berikan kesempatan adalah betul-betul manusia adhyaksa yang pinter punya integritas," sambung Burhanuddin.
Atas dasar itu dia berpesan kepada semua Kejati untuk mengusulkan calon pemimpin yang berprestasi di kejari, bukan hanya kedekatan atau kekerabatan saja.
"Saya selalu meminta seluruh Kejati sebenarnya. Kalau mengusulkan orang, tolonglah lihat dulu. Ini pak, ini pak. Padahal cuma kenal dekat saja, saya tidak mau. 'Pak anak ini berprestasi tolong'. Enggak ini, setiap Kajati mau pindah, puluhan orang diusulkan, artinya itu bukan karena prestasi tapi ewuh pakewuh, enggak enak kalau enggak diusulkan permintaannya. Nah kalau semua pimpinan masih berpikiran begitu, iya hancur kejaksaan," kata Burhanuddin.
Ia menyebutkan fokus utama dirinya saat memimpin Kejagung adalah pembenahan dan peningkatan sumber daya manusia. Sebab, menurutnya, banyak jaksa yang seharusnya berprestasi dan pintar itu talentanya malah tenggelam karena tidak diberikan kesempatan.
"Banyak teman teman yang tenggelam, kasihan. Padahal mereka pintar, punya talenta tapi tenggelam karena usianya dan tidak diberi kesempatan untuk berprestasi," jelasnya.