drberita.id -Harga tiket masuk Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) yang mahal dinilai membatasi akses masyarakat Sumateta Utara untuk menikmati ajang pesta rakyat.
Sejak pertama kali PRSU digelar bukan hanya menjadi arena hiburan, melainkan juga etalase pembangunan dan promosi potensi daerah, sekaligus wadah pelaku usaha, UMKM, serta masyarakat untuk bertemu dalam satu ruang.
"Filosofi itu jangan sampai hilang. Modernisasi penyelenggaraan memang penting, tetapi jangan menggeser semangat kerakyatan yang selama ini menjadi identitas PRSU," ujar Sekretaris Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) Muhammad Zein Azhary Wajdi Lubis di Medan, Selasa (7/7/2026).
Menurut Zein, tingginya harga tiket masuk PRSU bukan semata persoalan nominal, melainkan menyangkut keterjangkauan masyarakat.
Jika masyarakat enggan datang karena biaya yang dianggap mahal, maka dampaknya tidak hanya dirasakan penyelenggara, tetapi juga pelaku UMKM, pedagang, peserta pameran, hingga pelaku ekonomi kreatif yang menggantungkan pendapatan dari ramainya pengunjung.
"Semakin banyak masyarakat yang hadir, semakin besar pula transaksi ekonomi yang tercipta. Karena itu, harga tiket seharusnya menjadi instrumen untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, bukan sekadar mengejar penerimaan," katanya.
Selain persoalan tiket, LAPK juga menilai PRSU membutuhkan terobosan agar mampu kembali menjadi magnet masyarakat di tengah semakin banyaknya pilihan hiburan.
Zein menyebut penyelenggara perlu menghadirkan konsep yang lebih inovatif melalui pemanfaatan teknologi digital, pameran yang interaktif, promosi produk unggulan daerah yang lebih menarik, serta memperluas ruang bagi UMKM, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif.
"Masyarakat akan datang jika PRSU mampu menawarkan pengalaman yang berbeda, nyaman, dan selalu menghadirkan sesuatu yang baru setiap tahun," katanya.
LAPK juga menilai PRSU dapat belajar dari keberhasilan Jakarta Fair yang mampu bertahan sebagai salah satu pameran terbesar di Indonesia.
Keberhasilan tersebut, menurut Zein, tidak hanya ditopang kemegahan acara, tetapi juga tata kelola yang baik, inovasi berkelanjutan, serta kemampuan menghadirkan jutaan pengunjung setiap tahun.
LAPK pun mendorong panitia PRSU bersama Pemprov Sumut melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek penyelenggaraan, mulai dari kebijakan harga tiket, kualitas acara, inovasi, hingga kenyamanan pengunjung.
"Momentum penyelenggaraan PRSU ke-50 seharusnya menjadi titik balik untuk mengembalikan PRSU sebagai kebanggaan masyarakat sekaligus motor penggerak ekonomi rakyat," tegas Zein.
Ia menambahkan, ukuran keberhasilan PRSU tidak semata dilihat dari megahnya panggung hiburan maupun besarnya pendapatan tiket, tetapi dari sejauh mana masyarakat dapat menikmati manfaat penyelenggaraan tersebut.
"PRSU lahir sebagai pesta rakyat. Jangan sampai ada keluarga yang hanya mampu menyaksikan kemeriahan dari luar pagar karena harga tiket menjadi penghalang. Sudah saatnya PRSU kembali kepada jati dirinya sebagai pesta rakyat yang benar-benar menjadi milik seluruh masyarakat Sumatera Utara," pungkasnya.