drberita.id -Dugaan kecurangan Badan Urusan Logistik (Bulog) membeli gabah petani siap panen di bawah harga standar pemerintah sangat disesalkan berbagai elemen masyarakat. Seperti pengakuan para petani di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumatera Utara.
Pengakuan para petani itu juga dinilai semakin menguatkan kecurigaan masyarakat selama ini, bahwa Bulog diduga berkontribusi besar terhadap kenaikan harga beras hingga sulit dijangkau masyarakat.
"Kalau benar pengakuan para petani tersebut, bahwa Bulog membeli gabah siap panen petani di bawah harga yang ditetapkan pemerintah, maka ini sangat kita sesalkan. Ini kesalahan besar," tegas Abyadi Siregar, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut periode 2013 - 2023, Kamis 28 Agustus 2025.
Bahkan di tempat terpisah, Iqbal, Ketua Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Peduli Memajukan Sumut menilai, bila benar pengakuan para petani bahwa Bulog membeli gabah petani dengan harga di bawah harga yang ditetapkan pemerintah, maka hal itu merupakan tindakan kejahatan.
"Ini bentuk kejahatan. Di saat rakyat susah, Bulog malah curang. Membeli gabah petani di bawah standar yang ditetapkan. Kasihan petani. Seharusnya, Bulog membela petani. Bukan malah menyiksa petani," tegasnya.
Para petani di Sergai, Sumut, mengeluh dan protes karena gabah siap panen mereka dibeli oleh Bulog hanya dengan harga Rp 6.250 s/d Rp 6.300 per kilogram.
Ini diakui Zulpan (35), salah seorang petani di Desa Pematang Cermai, Kecamatan Tanjung Beringin, Sergai, Sumatera Utara. Zulpan yang ditemui saat panen menuturkan, harga gabah siap panen dengan sabitan treser atau komben, dijual kepada pihak Bulog dengan harga Rp 6.350/Kg.
Sedang harga jual kepada agen lainnya hanya seharga Rp 6.250/Kg. "Kalau gabah yang dipanen dengan alat odong odong, dibeli pihak Bulog dengan harga Rp 6.450/Kg. Kalau dijual kepada pihak agen yang lain harganya hanya Rp 6.400/Kg," kata Zulfan.