drberita.id -Dalam urusan mempertahankan jabatan di Indonesia, uang dan beking biasanya berjalan seiring. Karena itu, jika ada pejabat yang bisa bertahan lama menduduki posisinya, biasanya tak lepas dari dua syarat tersebut.
Salah satu pejabat di tanah air yang tetap kokoh di posisinya dan paling disorot adalah Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo. Sudah lebih lima tahun pria yang akrab disapa Darmo itu menjabat, posisinya tak juga tergoyahkan.
Meski banyak sorotan negatif menerpanya, Darmo tetap bertahan di posisinya. Mulai dari kekayaan yang melonjak tajam, blackout listrik di sejumlah wilayah yang terus berulang, pemadaman listrik bergilir yang terus terjadi, hingga rusaknya meritokrasi di PLN yang sudah terungkap ke publik, semuanya tidak mampu menumbangkannya. Mungkin karena Darmawan Prasodjo mampu memenuhi dua syarat itu.
Faktanya, pada RUPS dadakan yang digelar pada Kamis malam, 18 Juni 2026 lalu, Darmo terpilih lagi menjadi orang nomor satu di perusahaan setrum yang memonopoli sistem kelistrikan tanah air tersebut. Dan itu terjadi di saat Pulau Jawa mengalami pemadaman bergilir.
"Terlepas dari kontroversioal yang terjadi, Dirut PLN Darmawan Prasodjo ternyata terlalu kuat untuk dilengserkan dengan berbagai kasus yang menerpanya," beber Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Kornas Re-LUN) Teuku Yudhistira di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
"Ya kita tidak tahu dimana kekuatannya, tapi yang jelas Darmawan Prasodjo itu salah satu pejabat kuat di tanah air saat ini. Bahkan isunya, dia mempunyai pengaruh besar di PLN dalam urusan mengutak atik posisi direksi yang sebenarnya menjadi wewenang BP BUMN dan Danantara yang kita nilai seperti macan ompong khususnya menyangkut PLN," sambungnya.
Padahal, di saat pemadaman listrik bergilir yang saat ini melanda Kalimantan, banyak pihak yang menyerangnya. Tapi mantan Deputi I KSP era Jokowi itu tetap bergeming dan tidak terusik sedikitpun.
Pengaruh besar Darmo itu bisa terlihat jelas ketika dia bisa menempatkan orang-orangnya di posisi direksi dan mengubah nomenklatur, misalnya untuk jabatan Wadirut PLN.
"Dulu ada posisi itu dan itu Darmo yang mendudukinya. Tapi setelah dia naik jadi Dirut, posisi itu dihapus. Nah sekarang nomenklatur kembali diubah saat dia menempatkan rekannya Yusuf Didi Setiarto sebagai Wadirut PLN. Hebatkan," bebernya.
Dalam urusan cengkraman di instansi plat merah, Yudhis menilai lebih kuat atau keras Darmawan Prasdodjo dibandingkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang sebenarnya posisinya sebagai atasan Darmo untuk urusan energi di tanah air.
"Buktinya simpel saja, Bahlil yang katanya melibatkan aparatur lain seperti BIN dan Kejagung untuk menyelidiki kasus krisis baru bara untuk PLTU, sampai sekarang juga belum terlihat hasilnya," tutur Yudhis.
Yudhistira juga menyinggung tentang pemberitaan di sebuah media nasional terkait krisis batubara di PLTU PLN ini yang cenderung menyerang Menteri ESDM, tapi terkesan membela Darmawan Prasodjo.
"Sampai instrumen framing seperti itu Darmawan Prasodjo mampu melakukannya dan bisa mengaturnya. Begitu juga dia bisa menciptakan sosok kontraktor yang patuh disuruh teriak-teriak di media untuk membelanya, termasuk dalam urusan kerja dia dalam 5 tahun di PLN yang pernah kami kritisi. Kurang hebat apa Darmo," sentil Yudhis.
"Kalau saya boleh saran, Presiden harus jeli memandang sosok Darmo ini. Dari pada mencari-cari sosok lain sebagai regenerasi yang dianggap mampu membenahi PLN, mendingan tetapkan saja Darmawan Prasodjo menjadi Dirut PLN seumur hidup. Atur pakai undang-undang kalau perlu. Ya syukur-syukur ke depan PLN masih eksis dan sistem kelistrikan sebagai 'core' bisnis yang dijalankannya masih bisa dinikmati anak cucu kita di masa depan," pungkasnya.