drberita.id -Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Kornas Re-LUN) Teuku Yudhistira menyesalkan sikap Presiden
Prabowo dan Menteri BUMN
Erick Thohir yang terus mempertahankan posisi
Darmawan Prasodjo sebagai Dirut PLN.
"Kan sejak awal secara tegas kami mengatakan copot Darmawan Prasodjo. Untuk apa menempatkan orang yang tidak bisa kerja dan hanya bisa menghamburkan uang negara di saat pemerintah menerapkan efisiensi anggaran, di saat banyak rakyat kelaparan, banyak rakyat miskin dan banyak pengangguran. Toh masih banyak orang pintar di Negeri ini yang paham tentang urat nadi PLN yang bisa didudukan sebagai Dirut," ungkap Yudhistira melalui pesan WhatsApp, Senin 19 Mei 2025.
Sebenarnya, kata Yudhis, dengan uang sebanyak itu, jika dikalkulasi tentu bisa digunakan untuk membangun jaringan kelistrikan di 5 desa yang hingga kini banyak yang belum merasakan listrik.
Bahkan dari hitung-hitungan, untuk membangun jaringan kelistrikan di 5 desa saja hanya menelan biasa tidak sampai Rp. 40 miliar.
"Ini untuk voli yang tidak ada korelasi dengan kerja kerja PLN, bisa menelan biaya lebih besar dan mirisnya tidak juara pula," ujarnya.
Dengan fakta baru ini, kata Yudhis, tidak ada lagi alasan Presiden Prabowo dan Menteri BUMN tidak mencopot Darmawan Prasodjo.
Di samping itu, BPK RI harus turun tangan mengaudit anggaran tersebut dan desak aparat penegak hukum untuk memeriksa dan mennangkap Ketua Umum Jakarta Elektrik PLN, Arsyadhany Ghana Akmalaputri yang juga menjabat sebagai EVP Umum PLN.
"Dia harus bertanggungjawab atas penggunaan biaya yang besar untuk tim yang tidak juara itu. Karena sumber anggaran JE PLN berasal dari PLN yang notabenenya adalah uang negara," tegasnya.
"Arsya juga harus dievaluasi. Laporan keuangan JE PLN juga harus dievaluasi dan dibuat secara transparan. Uang sebesar itu jangan sampai menciderai hati masyarakat banyak," tutup Yudhis yang juga Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO).
Dikabarkan, tim voli Jakarta Elektrik (JE) PLN yang gagal menorehkan prestasi dalam ajang Proliga 2025 yang baru selesai dilaksanakan menjadi gunjungan inshan PLN.
Dari 7 tim BUMN yang berlaga, PLN hanya mampu meraih juara empat alias tidak masuk dalam tiga besar. Jelas capaian tersebut menurun dibandingkan tahun lalu yang masih mampu meraih runner-up.