DRberita | Hujan tak meyurutkan jalan ayah satu anak ini. Ia masih saja berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk menawarkan kerak nasi dagangannya.Dirinya berpindah dari satu warung ke warung lain untuk menjual atau pun sekedar beristirahat menghilangkan sejenak lelahnya.
Sejak berhenti bekerja sebagai petugas kebersihan, ia mulai kerja serabutan. Mulai dari menjual kacang tojin, sebagai makelar barang-barang yang hendak dijual oleh pemiliknya, hingga menjadi pemandu.
Sugito Al Hisan, pria 32 tahun ini tak pernah malu-malu untuk mendapatkan uang demi mengidupi isteri dan seorang putera semata wayang, willy.
Bersama ibunda dan isteri tercintanya, ia menekuni usaha kerak nasi. Ya, makanan khas yang hampir punah ini tak banyak lagi yang memproduksinya. Seiring perkembangan tekhnologi modern dalam memasak nasi, kerak hampir tidak ada lagi.
Baca Juga: Pertamina Bagikan Dagangan UMKM Binaan ke Jurnalis Peliput Covid-19
"Awak jualan ini, demi keluarga. Juga demi menjaga kelestarian penganan ringan yang dulu sangat memasyarakat ini," ujarnya di sore yang diselimuti derai hujan sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Pria berbadan subur yang tinggal di Kelurahan Mabar Hilir, ini terus saja berupaya memasarkan kerak nasi hingga ke Sei Rempah. Dirinya tak takut akan persaingan yang ada di antara para pemroduksi.
"Di sini, hanya ada beberapa orang saja yang memproduksinya. Kesulitannya, yaa, kalau matahari tak menyeringai mengeluarkaan panasnya, maka ada sedikit kesulitan untuk mengeringkannya," paparnya sambil tertawa.
Baca Juga: Khawatir Jadi Lokasi Maksiat, Hotel OYO di Medan Ditolak Warga
Ya. Kesulitan memproduksi kerak nasi ini adalah karena pengeringan dengan metode alami. Bukan tak pernah pula dirinya mencoba dengan cara lain. Tapi, hasilnya kerak jadi 'tak cantik' keringnya. Dan pada saat digoreng, tak mau mengembang.
"Bukan Awak (Saya-red) tak mencoba cara lain. Itu sudah kami lakukan. Tapi hasilnya tak cantik. Kerak nasinya tak mau kering merata. Dan tak kembang saat digoreng nanti," beber lelaki tambun ini.
Meski semua mengalami krisis ekonomi karena pandemi Covid-19, Gito tak pernah mengeluh. Ia selalu saja menawarkan dagangannya dari teman ke teman, warung dan tempat yang dianggapnya strategis untuk memasarkan. Dirinya yakin, metode alami, meski ketinggalan jaman, tapi hasil akhirnya masih menjaga kualitas.
Baca Juga: 3 Mahasiswa USU Berprestasi Masuk 10 Besar Lomba Karya Ilmiah Tingkat Nasional
"Alhamdulillah, bang. Berkah di bulan ramadhan. Meski sekarang hasilnya masih pas-pasan, tapi setidaknya orang masih sangat menggemari makanan unik dan ramah mulut ini. Awak yakin, usaha kerak nasi ini akan berkembang nantinya meski dengan metode lama," katanya sambil menutup perbincangan.
Gito masih menerima tempahan kerak nasi untuk Idul fitri nanti sampai 16 hari ke depan. So, siapa yang mau penganan tradisional ini, silahkan pesan langsung, ya, gaess. Harga per kilogramnya Rp. 35.000 mentah. Dan harga per bungkusnya 5000 siap untuk dimakan. (art/drb)