drberita.id -Pemadaman total yang memutus aliran listrik secara masif di wilayah
Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) hingga
Sumatera Bagian Tengah; meliputi Provinsi Aceh,
Sumatera Utara, Riau, hingga
Sumatera Barat, menjadi bukti nyata kerapuhan fatal infrastruktur energi nasional di bawah tata kelola PT
PLN (Persero).
Alur waktu yang dicatat mulai dari, Pukul 18.44 WIB - The Trigger (Titik Awal Gangguan): Terjadi gangguan fatal pada jalur transmisi Rumai-Muaro Bungo berkapasitas 275 kV.
Jalur ini merupakan salah satu tulang punggung (backbone) utama interkoneksi tol listrik Sumatera yang menghubungkan pasokan antar-wilayah.
Pukul 18.45 s.d 18.50 WIB - Cascading Failure (Efek Domino); Putusnya jalur transmisi utama memicu ketidakseimbangan beban (load imbalance) yang ekstrem dan instan. Subsistem Sumatera Bagian Utara kehilangan sinkronisasi frekuensi dengan subsistem lainnya.
Sistem proteksi otomatis memaksa gardu gardu induk pembangkitan melakukan pemutusan darurat guna melindungi aset generator dari kerusakan fatal akibat lonjakan beban (voltage surge).
Pukul 19.00 WIB - Total Blackout; Wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan sebagian Sumatera Barat padam total. Aktivitas domestik, fasilitas publik, jaringan telekomunikasi (BTS kehilangan daya), dan aktivitas ekonomi di kota kota besar seperti Medan, Pekanbaru, Banda Aceh, hingga Padang, lumpuh seketika pada jam sibuk (peak hours).
Pukul 19.30 WIB s.d Selesai - Step-by-Step Recovery; Tim teknis PLN mulai melakukan upaya black start (penyalaan ulang pembangkit secara perlahan) dan pengujian bertahap pada gardu induk transmisi.
Proses penormalan diproyeksikan memakan waktu 6 hingga 8 jam demi menghindari kejutan beban susulan yang berisiko merusak jaringan lebih luas.
Ketua DPP GMNI Bidang Geopolitik Andreas H Silalahi menegaskan peristiwa total blackout bukan lagi sekadar masalah gangguan teknis sektoral, melainkan sebuah ancaman serius terhadap ketahanan nasional dan stabilitas kawasan strategis.
" Pulau Sumatera adalah urat nadi ekonomi nasional yang berhadapan langsung dengan jalur geopolitik global Selat Malaka. Ketika sistem kelistrikan satu pulau bisa lumpuh total dalam hitungan menit hanya karena satu titik transmisi rontok, ini adalah alarm bahaya! Ini membuktikan manajemen PLN dikelola secara amatir, tanpa visi mitigasi risiko yang matang," tegas Andreas.